Jika ditanya, pilih yang enak apa pilih yang benar, tentu saja jawabanya pun sangat membingungkan dan berhati-hati, pakai kacamata paradigma apa dulu ini? Pakai sudut pandang siapa dulu ini? Pertanyaanya kurang mengerucut nih. Berbagai respon pasti dilemparkan pada pertanyaan itu, baik mari sederhanakan saja. Entah sebuah akulturasi budaya atau efek masuknya globalisasi, dan tak tahu mulai merebaknya dari kapan, tapi yang kutahu akhir-akhir ini, beberapa orang-orang diberanda media sosial cukup vokal dalam menyuarakan gapapa sex yang penting ada consent dari kedua belah pihak, hematnya begitu. Sampai ada istilah FWB atau friend with benefit ya benefitnya adalah sex. Terlalu naif juga awalan dari kalimat pertama di paragraf kedua, memang saya belum tahu apakah hal seperti itu terpengaruh dari budaya lain atau memang kita menciptakan budaya tersebut. Dan kembali lagi kepada kebenaran tiap orang, dimana kebenaranku mungkin berbeda dengan kebenaran banyak orang, atau sebaliknya, yang kuta...