Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Saatnya Berjalan Kembali

Seperti sebuah perjalanan yang panjang Saatnya bangun dari jegalan batu yang menyungkurkan Kembali berjalan lagi, dengan pelan Menjadi manusia-manusia biasa Dengan segunung nikmat dan penderitaan dunia Tak banyak dikenal, dan tak ingin terkenal Secukupnya adalah kata yang mewakili semua Falsafah jawa "sak madyone" juga mewakili Dosa? Kukira saatnya menebus kesalahan itu Tak apa Sedikit teman dengan saling membantu secukupnya dan sebisa-bisanya Lalu apa lagi? Pendamping? Pacar? Kekasih? Aku bingung memilih kata yang tepat untuk tulisanku yang ga nyastra-nyastra banget ini hahahaha Kurasa setelah kepergianmu sosokmu sangat tak terganti, sosokmu yang dewasa Kurasa suami mu sangat beruntung memilikimu Mendapat semua belas kasih kedewasaan Kurasa aku yang tak pantas memang dulu melanjutkanya Saatnya menyingkirkan dulu bahasan cinta lawan jenis ini Kurasa akan begitu "budrek" kalo kata mas sabrang Jadi ya back to basic saja, seperti jati dirimu Saatnya bekerja saja, memba...

Menagih Idealisme

Kau pernah berkata dulu Altruis sebagai nafas dan hati nuranimu Bahkan masalah percintaanmu dengan manusia Realitas menagih semua idealisme itu Tentang tak menikah, membantu yang membutuhkan tentu dalam lingkaran diam dan sunyi Tak semua orang tau, hanya kau dan Tuhanmu saja yang tahu Sekarang, kau goyah Tapi berbagai perenungan membuahkan sebuah identitas baru Identitas idealisme yang katanya mewah saat masih muda Lantas jika sudah tua apakah kemewahan terakhir itu akan hilang? Seperti yang dibicarakan Tan Malaka Tapi kurasa idealisme juga harus berkembang? Lantas kau akan jatuh cinta lagi? Seperti dua tahun yang lalu? Suara-suara tagihan dan jawaban saling mengadu kebenaranya Jadi lihat saja esok hari Semoga membangun esok hari senantiasa terbantu Dengan apapun idealismenya Surakarta, 30 Oktober 2022

Tapi Ijinkan Aku Jatuh Cinta Lagi

Hanya lima jam Sesempit itu aku mengenalmu beberapa hari ini Dan kali ini seperti patah saja harapanku Aku membenci sebuah harapan sebenarnya Tapi agaknya sombong juga manusia biasa ini yang tak punya harapan Apakah aku ada salah ketika 5 jam bertemu kemarin Atau memang aku bukan kriteriamu saja yang sering kau ceritakan Aku tak tahu soal itu Tapi ijinkan aku jatuh cinta lagi Waktu yang semakin bergulir, kaupun semakin jauh kurasa Tak tahu apakah aku masih bisa mendekatimu lagi atau tidak Tulisanku tak pernah segamblang dan sejujur ini Seperti tulisan harian yang tanpa pengandaian, sangat jarang hahaha Yasudahlah, tak apa Dan tak apa juga jika kau tak mencintaiku Aku hanya rindu diriku ketika jatuh cinta, berdoa kepada tuhan hanya untuk kebaikanmu Tak membalaskan pamrih cinta kembali, hanya jujur saja aku suka padamu Cukup ijinkan saja, ijinkan aku mencintaimu Dua tahun kurang lebih rasa ini tak pernah muncul Pertemuan memang sungguh misterius, tiba-tiba aku mengenalmu dalam jaring sos...

Air Mata

Pernahkan engkau begitu mencintai beberapa orang? Ibu, ayah, kanjeng Nabi, dan Tuhan? Sampai kau pada titik tubuhmu legam penuh dosa Tak tahu lagi harus bersujud dalam ampunan yang bagaimana? Bisa saja kau tahu persis mereka menangisi mu karena dosamu Dan emosimu yang putus asa tiba-tiba menjadi amarah sedih Jika saja kanjeng nabi meneteskan satu tetes air matanya yang disana ada kesalahammu Kau mau bagaimana? Dunia mu runtuh saat itu, jagad yang terbentang hancur Kau menangis sejadi-jadinya, bayangkan saja Dengan isak tangis kau merengek "kanjeng nabi meneteskan air matanya karena hamba yang bodoh ini" Bahkan menyebutnya pun serasa tak pantas untuk mulut yang penuh dosa ini Apalagi menuliskanya dalam tulisan ini Seperti mencari pembenaran nafsu hamba yang bodoh ini Lalu memamerkanya ke banyak orang untuk simpatisam pengampunan Pengampunan atas pengakuan orang lain bukan kanjeng nabi itu sendiri Apalagi tuhan mu Kau mau menjelaskan apalagi kepada tuhanmu yang menciptakanmu Ma...

Tumbuh Kembali

Kurasa aku menemukan bunga yang tumbuh kembali Mekar disabana yang kering tandus keemasan Dirimu kembali disana lagi, sendiri sunyi disenjakala kehidupan Bunga yang mekar disore hari, dua tahun sudah putus asa dirimu menunggu Dan kurasa aku harus merawatnya juga, merawat ingatan kebaikan Dua makhluk yang harus saling merawat Ijinkan diri ini merawatnya Tuhan Surakarta, 28 Oktober 2022

Lelah Letih Sakit

Kadang sakit Meriang begini Ingin tidur saja rasanya Beristirahat merebahkan badan Libur tiga hari Tidak bekerja Tapi ya bagaimana Dijalani saja Sejalan-jalanya Agar membuatmu terkagum Tuhan Surakarta, 25 Septemper 2022

Kretek dan Nasi Bungkus

Banjarsari terlihat hujan Namun sudah reda Didepan resto tempat bekerja Nasi bungkus sepuluh ribu Rokok empat batang hasil nglinting Kuhisap satu, kretek penuh cinta Aromanya kaya dari budaya negeri Dan saatnya kembali bekerja Cukuplah nasi dan kretek ini Untuk menyusukuri nikmat Di dua puluh tiga tahun insan ini Terimakasih Surakarta, 23 September 2022

Kretek dan Nasi Bungkus

Banjarsari terlihat hujan Namun sudah reda Didepan resto tempat bekerja Nasi bungkus sepuluh ribu Rokok empat batang hasil nglinting Kuhisap satu, kretek penuh cinta Aromanya kaya dari budaya negeri Dan saatnya kembali bekerja Cukuplah nasi dan kretek ini Untuk menyusukuri nikmat Di dua puluh tiga tahun insan ini Terimakasih Surakarta, 23 September 2022

Membuatmu Kagum

Pegangan untuku Sebuah hal yang membuatmu kagum Juga tak membuat engkau marah Kurasa hal yang sangat ampuh Jika akhir-akhir ini aku kehilangan hal ini, kembali kutemukan lagi Semoga selalu kuingat Memang ampuh kurasa Tapi kadang juga sering lupa Dan membuatmu kembali marah Maaf Tuhan Surakarta, 23 September 2022

Jurang yang Sama

Baru 10 langkah Kaki terpleset ke jurang Lalu 100 langkah Terpleset lagi 1000 langkah Tersungkur kembali kejurang Lalu 10.000 kembali berjalan Jatuh lagi Anehnya jurang selalu sama Apakah aku berjalan memutari Tak maju seditpun Diam tapi membuang tenaga Sia-sia semua tapak yang telah terjalani Juga hal bodoh masuk ke jurang yang sama 2 jurang besar yang sama Bodoh Surakarta, 22 September 2022

Doa Puisi

Bagiku puisi adalah doa Doa untuk ibu dan bapak seringnya Karena dalam kehidupan nyata saya tak pandai berekspresi Jadi puisi jadi sarana doa dan kasih sayangku Menurutku tulisan yang paling sunyi ya puisi ini Tak dibaca siapapun kecuali diri ini dan tuhan Ingin rasanya esok hari yang lama kubaca puisi-puisiku Pasti sangat beragam rasanya Entak sedih atau bahagia Kali ini kucoba istiqomah dalam menulis puisi Karena dengan berpuisi juga aku berdoa Kepada ibuku, bapaku terutama Aku ingin sekali membahagiakan kedua insan tersebut Karenanya aku seperti ini, entah didikan yang disengaja atau tak disengaja Sehat dan bahagia selalu untukmu pak bu Surakarta, 21 September 2022

Sehat Selalu Bu

Bu sehat selalu ya bu di rumah Anakmu sedih melihatmu terbaring di kasur tua itu Aku disini masih bertarung dengan luka dan luka Anakmu ini hanya bisa mendoakanmu lewat puisi-puisi ini bu Entah penting atau tidak, tapi hanya bisa tercurah ditulisan-tulisan ini Kadang tak sejalan dengan kenyataan Tulisan seperti surga yang banyak bunga dan taman-taman disekelilingnya Sedangkan dikenyataan sungguh neraka yang panas dan terpincang-pincang Semoga sehat selalu bu Dan bahagia Juga bapak Surakarta 21 September 2022

Wangi Kretek dan Minoritasnya

Namanya bayu Nyawanya terselamatkan karena kretek Tiap hisapanya membuat dia sadar Bahwa dia adalah manusia Hal minoritas seperti kisah bayu yang tak banyak ibu-ibu gosipkan Terlilit berbagai pekerjaan yang tak kunjung usai Lingkungan teman yang menjatuhkanya berkali-kali Kesendirian selalu jadi teman setianya kala di ruang kosong Begitu pun bosnya, atasanya bahkan keluarganya Waktu itu dilantai atas hotel tertinggi dikota paling maju dinegeri ini Keputusanya mau mengakhiri hidupnya sedikit abu-abu Kemudian hal yang tak dicobanya pun dicoba Benar, menghisap kretek yang sangat kaya dinegeri tersebut Matanya sedikit agak tenang dan sedikit-demi sedikit tersadar Juga menyadari dirinya manusia biasa yang tak kekal seperti malaikay Begitupun emosinya yang tak seperti itu juga Kepercayaan diri terbentuk setelah kesendirianya Jadi tak hanya sendiri, kretek pun jadi teman keduanya Surakarta, 18 September 2022

Perjalanan Angin

Angin selalu mengitari kekosongan Ruang kosong yang ramai Disana selalu tersusupi angin Tak dirasakan, hanya sedikit yang merasakanya Yang tak terpikirkan sama sekali Tak disadari juga Kadang membawa bencana Lemah, kuat, kadang berdosa Angin Surakarta, 17 September 2022

Aku Tak Apa

Sungguh aku tak apa Hitam sudah mencemari kekosongan Aku tak menyebutnya kesalahan Aku hanya melihat keseimbangan saja Bukanya membenarkan sebuah dosa Tapi memang kurasa diri ini kesalahan Dosa bertumpuk bertimbun bak kuasa Sebenarnya apa ini? Teriaku kepada Tuhan Juga sebenarnya tak pantas Kala senang sejauh jagad raya Jika teruruk ya begini saja Tapi kemana lagi diri ini bercerita Kepada siapa lagi diri ini memohon ampunan Tuhan, sungguh ampuni manusia yang kecil ini Manusia yang tak berdaya, yang rapuh, bodoh, tak mampu Kemana lagi hambamu ini meminta pertolongan Sungguh kemarin congkak dan bodoh akan pengskuan diri Sebuah pencarian yang kurasa sia-sia Bagaimana tidak, bukan semakin dekat malah menjauh sejauh jagad raya Menangis sejadi-jadinya, kesombongan atas diri tersungkur dengan hina didepanmu Tolong hambamu ini, tolong, tolong Ampuni juga atas segala dosa kesalaham yang menumpuk didunia Kepada orang tua apalagi, bersembunyi dibalik rasa tak apa, bahkan sebenarnya luka Berlari ...

Mensyukuri Kepergian

Sebuah kabar datang dari seorang teman Tentang kepergian mu ke negeri orang yang cukup jauh Aku lupa siapa yang persis mengucap kabar itu dan saat kapan Tapi kita semua sepakat jarak dan waktu hanya ilusi-ilusi pikiran Sebenarnya kita sudah satu dalam semua semesta ini termasuk waktu Tak ada aku dan kamu, bahkan tak ada kita, tak ada konsep sampai bahasa Soal raga yang terpaut jauh antara indonesia dan korea juga konsep-konsep pikiran kita Kukira mensyukuri kepergian adalah hal yang seharusnya dilakukan Semoga kita selalu dalam ruang kosong sunyi yang tanpa pikiran dan konsep-konsep modern Semua berjalan dengan kejernihanya, berjalan sebelum pikiran, sebelum kata dan bahasa Disana kita semua seperti cermin yang jernih, merefleksikan segala sesuatu dengan apa adanya Karena sudah tak ada lagi konsep aku kamu bahkan sebelum pikiran, kita menemukan cinta disana Mungkin konsep cinta dan tulisan ini juga terbahasakan aksara, tapi marilah kita kosong kembali Diam saja diruang kosong sunyi ini...

Haii

Haii dunia aksara Kembali lagi dengan segenap perasaan derita Tak ada yang melihat tulisanmu kecuali Tuhanmu sendiri Begitu asyik bukan kesunyian ini Hanya ada kamu dan Tuhanmu saja Kembali berkeluh kesah melalui tulisan Bisa kubilang semua berasal dari dia, tunggu tunggu, ya berasal dari diri sendiri tentunya Kesalahan tiap langkahnya memupuk gunung penderitaan yang tinggi didasar laut Kata derita menjadi teman kedua ku setelah kesendirian Tapi tak tahu, hal-hal yang menyangkut kesedihan selalu memunculakn tulisan-tulisan seperti ini Tapi, siapa juga yg mau menderita agar tulisanya dapat muncul kembali, hahahaha Kali ini benar-benar sedih, risau, takut Takut dengan sedihnya orang-orang dikeluarga, tentu yang paling berjasa dan besar sekali hutangku kepada keluarga Juga masalah kerja, pasti hal-hal yang memusat padaku adalah sumber masalah, sumber kebencian, em tapi kukira aku pantas mendapatknya karena diriku yang buruk ini, tak sopan, ngeyel, dan selalu sok bisa. Kebenaran memang pah...

Kembali MeinduMu

Kadang ditengah ramainya orang-orang yang penuh harap Seya senantiasa sepi, sangat sunyi Memahami jagat yang maha luas ini Saya benar-benar kecil dan tak berdaya Sebutir debu pasir yang tak ada artinya Dan piciknya lagi, saya tak tiap waktu merinduMu Hanya saat saat butuh saja, sangat banyak terselubungi kepentingan saat merindu Ego dan sang bijaksana saling memenggal satu sama lain Penuh dengan pertarungan sengit tak ada hentinya Kebanyakan pertempuran ego selalu memenangkan pertandingan Kebanggaan yang palsu turut hadir setelahnya Kini hati yang dijadikan medan laga itu kosong luluh lantah Hancur tak terlihat mana yang hitam dan putih Semua terlihat abu-abu dan samar penuh kabut Jahat yang menjadi sangat baik Begitu juga sebaliknya Diujung waktu kembali kumerindukanmu Entah kapan kita kan menjadi satu dan mengetahui semuanya Semua yang ada dijagat ini Rindu Rindu Rindu sekali 30 Juli 2022

Kalitan

Kali ini duduk dibawah pohon beringin depan masjid kalitan Beratapkan langit surakarta yang cukup cerah Aroma kopi angkringan tiga ribu rupiah membumbung ke daun daun Aku sangat suka suasana ini, lampu kota kuning bercampurkan oranye yang khas Melihat manusia-manusia berkomunikasi dengan hangat Canda yang sebenar-benarnya canda Menatap luas bima sakti Duduk sendiri Di kalita Surakarta Surakarta, 24 Juli 2022

Jauh lagi

Sedih Mungkin terlalu jauh Sangat jauh Disini begitu asing Tempat yang yang kutaktahu

Fala ubali

Gambar
Kau dihancurkan Dihinakan oleh orang2 dikota thaif Ditahun kesepuluhmu menyatu dengan yang sunyi Bertemankan zaid bin haritsah kau melalui bersama dengan penuh luka Hingga bertemu utbah dan syaibah di 3 mill dari kota thaif Lalu kau termenung dalam lamun-lamun takutmu Sembari berdoa Lalu dalam sunyi itu seorang budak dari 2 anak rabiah mengurkan anggur padamu Dengan kata lembutmu addas pun mengikuti ajakanmu Lalu kau pun kembali ke mekah dengan rasa takutmu kembali Sesampai disekitar al akhsyabain jibril menawarimu tanah yang bisa menggulung mereka semua Lalu jin-jin yang dijanjikan berada dipihakmu juga Setibanya suasana itu kaupun menikmati sunyi ini atas janji kemenanganya Lalu tinggal di gua hira' sembari menemui sahabat pengantar suaka Al-muthim

Kapitalisme-Kapitalisme Asu

Sistem Sebuah rancangan Ikatan-ikatan bertuhankan uang Semua tunduk karenanya Menyembah uang dan takluk Kadang begitu asu jika kau dibawah sini Diatur-atur manager yang begitu asu juga takut kepada uang Takut kepada eksistensi jabatanya tergoyah Saya sepakat jika karena objektifitas Tapi rasa-rasanya karena zona aman dari dirinya saja Mengorbankan rasa altruisme yang suci dari manusia Kita yang dibawah sini hanya yang disuruh-suruh Salah siapa? Kapitalisme yang tak ada nuraninya itu? Apa sistem yang tercipta karenanya? Apa pelaku oknum-oknum yang diatas pekerja seperti kita? Hahahaha ingin ku jotos semuanya yang tak adil Menghakimi semuanya dan menyalahkanya Tapi saya siapa? Sama tujuan awalnya kenapa lupa? Jadi saya membatalkan semua itu dan membalas lewat cara lain

Prasangka

Saya takut Ah tidak juga Hanya tak enak saja Pada orang yang punya prasangka Membuatnya gelap hati Marah amarah merah Padahal tak sebenarnya begitu Terjepit kondisi sempit Pilihan-pilihan sempit Yang membuatnya prasangka itu Tapi dari sekian kondisi ini Kenapa mayoritas tak meninju kapitalis ini Apakah karena kodrati manusia? Apakah aku juga begitu saat punya banyak uang? Karenanya aku baru takut Jika bergabung ke mayoritas itu Aih tapi masalah benar salah juga masih gradual dan berlapis-lapis Jadi ya begini saja Melihatnya semuanya berjalan sejalan jalanya Dan memihak Surakarta, 16 Mei 2022

Kadang, ingin mendaki saja

Kadang saat seperti ini Aku ingin mendaki saja Gunung-gunung yang dekat saja tak apa Dengan cukup satu dua orang kawan Memandang sepi sunyi hutan ditiap perjalanan Hati terasa terisi kembali oleh hening-hening hembus gunung Tak ada lagi suara-suara ego manusia yang menyakitimu Udara serasa bersih dan menghirup panjang nafas saat perjalanam begitu mengenang Disana pasti biru langit begitu tua saat siang hari Hamparan sabana dan sedikit pendaki asing begitu membuat rindu Menyapa saat berpapasan dan saat di samping camp ground Sudah berapa tahun tak mendaki Disana begitu jujur dan bersih, tak banyak kepentingan untuk mengasih makan ego Mengobrol, memasak, dan terus berjalan dengan kebersihan alam Tak seperti dunia kapital dibawah sini Kadang perasaan juga ditumpuk ego dan bersinggung dengan manusia lain tanpa sadar Benar, tanpa sadar Ujungnya hanya membuat tulisan yang tak jelas Menumpahkan segala kerinduan terhadap hutan dan gunung Kadang tenenangan itu yang benar-benar kubutuhkan dibali...

Ibu dan Cahayanya (13)

Tiada Sebuah idiom para sufi-sufi zaman dulu dan sekarang Kesadaran meniada dan penyatuan menjadi hangat akhir-akhir ini Candra Malik pun yang paling lantang berguyon soal ini Samudera debu yang sekecil-kecilnya berada disemesta ini Cinta apalagi Kasih sayang Surakarta, 23 April 2022

Menakar KeinginanMu Dariku

Semalam Simbah berkata yang selalu membuat anak cucunya resah Apalagi aku yang masih bodoh ini kadang selalu bingung dalam mencernanya "Apa yang kulakukan didunia hanya dari perintahNya" Kurang lebih seperti itu, bukan karena perintah yang lain-lain Akibatnya bekingan dan bantuan juga langsung tersalur dariNya Jika bos menyuruhmu rapat diluar kota dan kau kesulitan saat perjalanan maka yang bertanggung jawab adalah bos Dan jika karena suruhaNya ya yang bertanggung jawab langsung dari sang pemberi pertolongan Aih, tapi bagiku tugas apa yang diperintahkan kadang masih membingungkan Mencari-cari dan kadang takut jika itu bukan perintahNya Sabrang menjawab jika bingung ikuti agama saja itu simpel horizonya Tapi sibebal ini kadang lalai akan hal itu Lantas sok-sok mencari atas nama passion itu Resah, bingung, gusar semua bergumul dikepala Surakarta 22 April 2022

Ibu dan Cahayanya (12)

Karena mencintaimu itu wajib Apapun ingatan buruk yang terekam diotaku Tapi harus membalas rahman rahimu Sebuah utang rasa yang membebankan pundak anak-anakmu ini Karena sungguh tak sebanding hitunganya Apalagi rasa Seperti saat penjual nasi sayur yang ramah terhadapmu Yang kau beli hanya jasa dan barangnya bukan rasa ramah dari penjual itu Sebuah hutang yang selalu lalai dari anak-anakmu ini bu Tak merawatmu di senja kala kehidupanmu Yang harusnya duduk menikmati sore ditemani anak cucumu yang bermain dipelataran Surakarta, 22 April 2022

Ibu dan Cahayanya (11)

Karena semua terselimuti oleh kasih sayang Dan yang kau beri hanya pahit biji sisa buah-buah yang manis Banyak orang mungkin akan menertawaimu bu Tapi karena terselimuti kasih sayang Aku berpandangan lain soal biji-biji pahit yang kau kasih Kau sengaja tak memberiku daging buah yang manis karena suatu hal Ya benar, agar aku menanam Sebuah hal yang akan selalu kuterima dan kuolah lagi Tak diberi langsung jawaban yang kongkrit tapi melalui sebuah pencarian Aku mensyukuri itu Surakarta, 15 April 2022

Manajer yang Tuhan

Kuasa memang jebakan Apapun bentuk menifestasinya Entah kuasa kepala pemerintahan Atau sampai yang lebih kecil Ya benar Kuasa atas dirimu sendiri Jika ditempat kerja selalu ada manajer yang semena-mena Memakai kata yang kasar Membanting wadah saat kau membuat kesalahan Membanting mentalmu, sungguh kuasanya menutup nuraninya Selalu ada konsep untuk memaafkan si manajer itu Segarang apapun dia dan seburuk itu juga kata kasarnya terhadapku Aku selalu punya konsep-konsep dari marja' maiyah Banyak sudut pandang yang membuat omonganya itu hanya seperti sapuan angin Tak berasa dan tak menyakitkan Lalu munculah ruang-ruang sunyi pada dini hari ini Memgadu pada sang pencipta bulan di jalan selamet riyadi Mengadu pada tulisan yang orang lain tak membacanya Mengadu dan mengolahnya pada semesta yang menjadinya otokritik diri Surakarta, 12 April 2022

Ibu dan Cahayanya (10)

Gambar
Tidur dipinggir-pinggir jalan Mungkin malam ini dan malam-malam besok akan seperti ini bu Kembali meniduri jalanan Lalau bersubuh di masjid kalitan solo Mungkin besok-besok tempat ini jadi saksi memori juga Menunggu terbit mataharu di rumahNya yang historis Warisan dari leluhur agung dan presiden Juga teman Mbah Nun Surakarta, 9 April 2022 Masjid Nurul Iman Kalitan

Lapar, Sakit dan Kerja

Pernahkah kau bekerja di luar kota Jauh dari rumah, jauh dari orang tua Lapar dan dingin menghantui dini hari Pagi saat bekerja perut perih karena belum makan Apalagi saat bulan ramadhan, selalu tak sahur dan buka seadanya Bertarung dalam manajemen diri melawan uang Banyak konsep hidup yang menahan itu semua Tapi semua kalah dalam pertarunganku Uang selalu menjadi bayang-bayang kemanapun aku melangkah Maaf bu Surakarta, 7 April 2022

Nikmat Lapar

Anakmu lapar bu Tapi kembali lagi tak apa Kau sudah sering mengajarkanya kepadaku Harus bertahan sampai tanggal gajian Aku selalu menikmati kelaparan ini Ya kadang juga sambat sewaktu waktu Tapi untungnya aku bisa menikmatiny Ya walau tak setiap saat aku begitu Karena aku bukan orang tua yang selalu dicintai banyak cucunya itu

Anak Kecil dan Peci Maiyah

Tubuhnya kecil Kulitnya kecoklatan Senyumnya manis Senja dia pergi ke surau Tentu dengan peci maiyahnya Putih merah yang khas itu Masa depan tak begitu dihiraukan Riang gembira bermain disamping surau Berhasil dan gagal selalu dalam tawanya Adzan berkumandang Para anak kecil dimarahi dan disuruh masuk Duduk diam ketakutan Tapi selalu usil ketika bersebelahan Menyeriusi permainan yang dibuatnya aihh Surakarta, 5 April 2022

Ibu dan Cahayanya (9)

Sekarang hari selasa bu Hari yang lelah untuk karyawan disini saat closing Keluar masuk barang masih diangkat manual Mungkin jam 2 dini hari baru selesai Tapi tak apa Merasa diri laki-laki seperti malu atas gender Aku bersyukut atas cahayamu Kembali saat puasa yang ketiga hari ini tanpa nasi sama sekali Semoga tak apa dihari tua Yang kupedulikan adalah hilir manfaat yang terganggu jika aku sakit Mungkin nanti malam aku akan makan Lapar kadang membuat ruang sunyi semakin mesra dan dekat Terimakasih bu atas itu semua Surakarta, 5 April 2022

Pengasingan Diri

Menghilang dalam semua temu Memendam yang harusnya dipendam Mengurung dalam dinginya sunyi Sampai pada suatu malam Kau ketahuan Menampakan diri kepermukaan Disapa oleh teman mu dulu Seperti sebuah pertemuan yang panjang Temu selalu menjadi oase dari pengasingan Tapi juga ingat dalam pengasinganmu Juga harus terus bertumbuh dengan yang kau yakini Terus menerus membaca Terus menulis Surakarta, 4 April 2022

Konsep DMY dan DMS

Di Masa Yang datang atau DMY Di Masa Sekarang atau DMS Tentukan tujuanmu pada DMY se optimis mungkin dan jadi titik horizon Lalu DMS akan menjalaninya sembari melihat apa yang dibutuhkan untuk sedekat mungkin dengan DMY DMY menjadi hakim2 dari perjalanan itu

Ibu dan Cahayanya (8)

Bu, cahayamu masih ada Walau seredup ini setidaknya tak mati Selalu ada dalam diri-diri saat melangkah Warnanya putih terang Menerangi sisi sisi yang sebagian gelap Kini ku mulai merwatnya dan membesarkanya lagi Regenerasi yang tak pernah mati Mengisi hitam putihnya semesta Dan senantiasa jadi satu dan menyatu Apapun bentuknya Siapapun penjaganya Selalu ada Surakarta, 4 April 2022

Anak Kecil di Belantara Hutan

Tubuhnya ringkih kurus Tak seperti anak kecil normal pada seharusnya Berpakaian sederhana dan lusuh tengah-tengah hutan Rasa takut selalu menyertainya Tapi kadang juga bahagia karena lamunan sendiri ditengah belantara Mengamati cahaya-cahaya yang masuk dalam pohon rindang dipagi hari Malamnya takut karena suara auman kadang terdengar ditelinganya Perutnya berbunyi karena kelaparan Hanya memakan buah-buahan dan tanaman yang bisa dimakan Suatu malam merupakan malam yang panjang bagi anak itu Singa yang kelaparan mengintai dibalik semak yang tingga Kuda-kuda siaga dan berdiri memegang batu dilakukan oleh anak kecil itu Seketika singa menerjang dan menerkam tubuhny Hanya batu dan sisa tenaga dari badan yang kurus agar bertahan hidup Pukulan batu tepat mengenai rahang singa itu lalu singa pergi Tapi cakar dan gigitan dibahu lengan kanan masih menyisakam perih dimalam yang panjang itu Surakarta, 3 April 2022

Mensyukuri Tulisan Sendiri

Saat yang pas dari menulis adalah saat jeda istirahat kerja Seperti sebuah angin segar dan air es dalam oase keseharian Tercurah dalam bait-bait tulisan yang tak penting Bukan karena ingin abadi atau untuk dikagumi saja Kadang di masa depan, membaca tulisan sendiri seperti sangat menyenangkan Fragmen-fragmen kehidupan sedikit terekam karenanya Aku mensyukuri itu, seperti saat ini Membaca tulisan-tulisan lampau begitu berkesan Surakarta, 3 April 2022

Ibu dan cahayanya (7)

Bu maaf ya bu Anakmu belum bisa pulang kerumah Pasti sahur dan buka akan bahagia jika makan bersama didepan tv Disini nampak berat dan susah bu Tapi beruntungnya bisa kuat karena doa mu Juga karena didikanmu yang mungkin tak kau sadari Juga gen-gen bawaan yang menyatu dengan cintamu Semoga semakin kuat disini bu Berada ditempat ini benar-benar tangguh karenamu Juga kontrol dendam yang sangat bisa kulakukan Tapi tak kulakukan juga aku yakin dari doamu Terimakasih bu Dan maaf sekali lagi Surakarta, 3 April 2022

Berselimut Dosa-Dosa

Lekat dalam tubuh Merasuk hingga menyatu Jiwa dan dosa bercampur Disayangkan mayat-mayat leluhur Apakah aku golongan yg paling rendah?

Ibu dan Cahayanya (6)

Ekspresi sayang Termanifestasi dalam laku Dalam peran Dalam segala hal Sedangkan aku Masih mencari Dimana horizon Dimana titik itu Agar bisa kukejar Juga jadi batas Jadi hakim Jadi hukumanya Segalanya terjebak Maaf ibu Selasa, 29 Maret 2022

Ibu dan Cahayanya (5)

Terbangun disiang hari Penyakit-penyakit malas menjamur Dalih kerja keras alasan pembenaran Lingkaran proses kotor Yang lama dan lambat Tentu saja merugikan diri sendiri Tapi kau tetap hadir dalam raga Dalam jiwa-jiwa kegagalanku Benar kata umbu Korban terimakasih, restu dan ampunan Maaf kan anakmu ini ibu Surakarta, 28 Maret 2022

Mengagumi Umbu

Hai mbah umbu Bagaimana kabarmu disana? Apakah disana lebih sunyi daripada dibumi atau bagaimana Kalimat yang paling tak bisa dilupakan adalah puisimu yang berjudul Ibunda Tercinta "Korban terimakasih, restu dan ampunan" Apalagi saat dinyanyikan oleh Nankinun Suara tinggi dari dosen UAD itu tak pernah kulupa Dan makna dari puisimu Aku sangat mengaguminya Surakarta, 27 Maret 2022

Ibu dan Cahayanya (4)

Embun-embun menghinggap dedaunan Terbatik rapi dalam lukisan bentang alam Tak banyak yang menyadari kehadiranya Kadang tersapu saja oleh kaki anak kecil bermain bola Banyak cinta-cinta disana Banyak cahaya pagi menembus awan-awan Lagak tawa menghiasi permainan pagi hari Orang-orang tua sudah beristirahat menyantap sarapan di sawah-sawah Mendahului terbit fajar yang sudah amat segera Banyak cinta-cinta juga Dimanapun dan Kapanpun Surakarta, 27 Maret 2022

Ibu dan cahayanya(3)

Air-air selalu mengalir Menyelimuti tanah-tanah dingin malam Mengalir ke yg rendah dan selalu begitu Cinta? Ya benar Cinta yg menghormati kesejatian Jika turun maka turun Jika ikhlas memberi maka ikhlas Tak perlu kata pembuktian Tapi memang begitu seharusnya Cahaya? Tak pernah padam dan selalu diberikan Surakarta, 27 Maret 2022

Ibu dan Cahayanya (2)

Terik-terik matahari membanjiri jagad-jagad disekitarnya Kiblat bagi galaksi, bagi planet-planet disekitarnya Selalu bekerja dengan semestinya Sesuai porosnya, sesuai cintanya Kau pun sama dengan ibumu Dengan orang-orang yang sepenuhnya saling mencinta Saling mengiblatkan dan memperhatikan Rapi berjajar sempurna tanpa aturan kaku Seperti semut-semut dengan tanggung jawabnya Surakarta, 26 Maret 2022

Kagum

Gapapa jatuh diremehkan  Bertarung dalam arena gagal Tersayat pedang dalam kegelapan Terjerumus kebodohan Tapi juga tak apa Ini masih terus memanjat Sebisa bisanya Dengan kemampuan bertarung yang secukup cukupnya Dengan alat yang seada-adanya Yang paling penting dan utama yaitu "Yang penting Panjenengan kagum sama usaha saya Gusti"

Ibu dan Cahayanya

Terimakasih atas cahayamu bu Kan kurawat cahaya ini dan kubagikan ke yang membutuhkan Tak pernah padam Walau kadang redup dan samar Tapi tetap ada dalam diri ini bu Doakan aku bisa meneruskan cahayamu Cahaya-cahaya yang selalu kubutuhkan Surakarta, 25 Maret 2022

Kembali Kosong

Seperti kesurupan Badan panas pikiran menghening Otak kosong hati semerah iblis Memerah lalu menghitam jahat Sedih gundah seperti tertutup Bahkan saat berinteraksi Setan-setan menguasai suasana Orang-orang menjauh karenanya Siapa aku sebenarnya, apa ini? Apa ini diriku yang sebenarnya? Apa aku ini memang setan Merah menghitam jahat ada padaku Kembali kosong, kembali menghitam Aku takut ini memang diriku Setan, iblis besertha hitam jahatnya Fajar indah surakarta, 5 Maret 2022

Idealitas yang Kukira Semu juga

Jabatanya berwibawa Membawa pangkat ketum komisariat disebuah himpunan terbesar dinegeri ini Berjiwa kepemimpinan apa adanya dia mengemban idealismenya itu Administratif yang dikiblatkan kukira tak lagi relevan Kebermanfaatan? Ya, begitulah tolok ukur yang seharusnya Berbeda dengan teman-temanku dijalan sunyi Dipinggir-pinggir jalan menerangi sekitarnya sebisa-bisanya Tanpa laporan pertanggung jawaban, tanpa rapat pleno, tanpa ad/art Menyisihkan kesemuan administratif yang asu itu Ya cukup baik jika manfaatnya optimal, tapi sepengalamanku hanya menjadi penjara bagi kebermanfaatan.  Sukoharjo, 16 Februari 2022

Utopia Semu

Enak ya menjadi keluarga yang kaya Berpendidikan sejak dari dalam kandungan Diberi fasilitas, sekolah mahal, gaya hidup mewah Lalu kuliah dijurusan bergengsi dengan biaya kuliah paling mahal Biaya hidup tak perlu dipikirkan Lalu menjadi idealis disebuah himpunan mahasiswa Nongkrong di tempat mahal, rapat ditempat estetik, baca buku di cafe kopi mahal Sebuah utopia semu dari orang sepertiku yang menganggap hal seperti diatas adalah surga Mungkin juga karena sifat manusia yang seperti itu Menganggap hal-hal yang kaya dari orang miskin sepertiku menjadi sebuah surga Dan mungkin juga dari orang-orang kaya disana yang menggap orang lain yang lebih tinggi darinya juga surga Utopia semu Sukoharjo, 16 Februari 2022

Tentang Sebuah Altruisme

Wanginya masih wangi Altruis selalu wangi bagiku Tapi kadang tersandung sendiri karena uang itu sendiri Tapi tetap saja wangi Menyandarkan hal kepada orang yang tepat membuat altruis semakin wangi Hal-hal yang menguasai keduniawian menghijabi wangi altruis Menghalangi wangi-wangi itu karena teknologi dan kemajuan Tidur diteras-teras ruko tak lagi sunyi Terhijabi bawah sadar teknologi dan kemajuan Altruis, tentang sebuah wangi-wangi membantu orang lain Agak menyisihkan haknya sendiri untuk orang lain Aku rindu kala itu Tapi seperti sekarang ini Tersandung uang dan keenakan Wangi altruis mulai pudar Kembalikan wangi itu Kembalikan Karanganyar, 15 Februari 2022

Pak, maaf Nggih Pak

Pak maaf pak Ampuni anakmu ini Ampuni segala kebodohanya laj Ampuni segala kebohonganya

Apakah Harus Melawan dengan Emosi

Sebuah kasus Ya karena terpancing juga

Hanya Lemah Terhadap Lingkungan

Dulu saat berkonflik dengan atasan waktu di nasi goreng, selalu ada empati dari teman disana Dan disini, sepengalaman dan seempiris saat tulisan ini ditulis benar-benar selfish atas nama uang Entah memang seperti itu atau problem sistem tak tahu Otokritiknya adalah saya lemah terhadap lingkungan tapi tangguh terhadap problem dengan atasan Dari hal ini kembali menemukan diriku sedikit, ya hanya sedikit Seberpengaruhnya teman dalam menjadi bahan bakar untuk menjalani pekerjaan Sekeras apapun atasan jika saling berempati dilingkungan teman bukan masalah bagiku Omongan atasan hanya saluran lidah busuk kapitalisme, sudah sedikit menghamba kepada uang dan merekapun sepengalaman saya berpihak disana Tetap saja yang menjadi sasaran empuk kesalahan adalah kaum buruh pada lapisan terbawah Sebuah catatan untuk diriku sendiri Sebuah evaluasi Otokritik Dagen • 2 februari 2022 . 12.37 (saat istirahat) 

Ya Meromantisasi Ya Melihat dengan Jernih, Seharusnya

Apa cukup diromantisasi penderitaan ini?  Bukanya harus melihat secara jernih juga?  Tanpa sekat-sekat hijab dan tabir yang membendung Sadari saja Akui saja Lihat dengan jernig Bahwa dirimu Gagal Sroyo • 1 Februari 2022

Teman Lama yang Kembali

Hai teman Lama tak berjumpa Kukira kau selalu hadir dalam tiap waktuku Ternyata tidak, dan kali ini kita bertemu kembali Kesedihan dan diriku akhirnya bermesraan kembali bagai teman lama yang lama berjump Masa-masa SMA seperti terulang kembali Rass takut karena kehinaan, dipandang sebelah mata, dan sempitnya pilihan yang harus dijalani Jika waktu awal kuliah masih banyak pilihan untuk memilih dan mencari teman yang saling menghargai Kini didapur kapitalisme, arena dan suasana saat SMA seperti sama persis Harus datang kesekolah bak taman   penghinaan Menggoyah mental dan kali ini lebih sulit karena beradu dengan tenaga juga Jargon-jargon bersatunya buruh hanya kiasan semata direalitas kapitalisme Tak seheroik perjuangan che guevara dan hegels Tapi jangan-jangan, apakah hidup memang seperti itu?  Saling memakan yang lemah dan memperkuat diri dengan fiksi uang?  Untungnya kesedihan langsung datang dengan cepat dan memeluku Sampai pada nadi yang terdekat kita selalu berbicara dengan satu l...

Maaf dan Ampuni Saya Tuhan

Kurasa, diumur yang mau ke-24 ini banyak sekali kesalahan kepada manusia dan kepadaMu Tuhan Apalagi kausalitasmu terhadap sebab akibat dari alam dan manusia Kurasa yang kurasakan saat ini dibayar secara cepat sebab akibat dari karma Atau dunia ini memang keras dan jahat untuk orang sepertiku Tepat saat belum genap satu bulan bekerja dipabrik ini, banyak dimanfaatkan, diremehkan sampai dihinakan oleh orang yang baru saja kenal Apakah dunia memang seperti ini? Evolusi yang kuat yang menang dan memanfaatkan yang lemah?  Atau memang kausalitas karma dari orang2 yang pernah kusakiti Kukira hari ini hari terakhir bekerja dipabrik ini, semoga habis pulang nanti mendapat upah Dan yang lebih pelik lagi, cuti kuliah atau menyerah begitu saja terhadap idealisme kemandirian Pulang? Entah sebuah keputusan pecundang atau menuruti nurani yang ditindih jahatnya dunia, jahatnya tenan, dan lemahnya diri Aku masih saja mencari yang kutahu, mencari-cari dari kupu-kupu lemah ini Kenyataan diri yang menggap...

Maaf Nggih Pak, Bu

Pak maafkan anakmu ini ya pak, hidupnya selalu merengek-rengek pada sunyi Juga untuk ibu, maaf nggih bu, anakmu ini suka mengeluh terus saat jalanya sulit Penuh tanjakan dalam tiap langkahnya Aku ndak tau bu, kapan anakmu ini akan sukses berhasil Beban kuliah saja tidak selesai-selesai, ya memang pengecut dengan alibi menjadi buruh pabrik disemester akhir  Pak maaf banget ya pak, seperti ga ada untung-untungnya dari anakmu ini Walau anakmu ini makin kurus dan hitam, tapi tak apa pak Ya mungkin semakin melengkapi akan gagalnga suatu perjalanan dilihat dari fisiknya Sajak ini kutulis diwaktu istirahat saat di pabrik karanganyar Penuh rasa gagal, tapi semoga bapan dan ibu memaafkan anakmu yang gagal ini pak, bu 12 jam kerja dengan mengharap rupiah untuk bertahan ditanah perantauan Banyak pelajaran, banyak guru, banyak ruang-ruang sunyi Sukoharjo, solo, karanganyar akan menjadi tempat monumental kegagalan ini Tapi tak apa bu, sepertinya anakmu ini memang pantas mendapat kegagalanya Aku tak...

Sekarang Seperti Tak Ada Siapapun

Bunga-bunga yang tumbuh telah hilang Kemarau datang sangat panjang dan sangat awal Tanah kering tandus tak tersisa hanya kehampaan Bahkan karena dosa ini, aku malu menyebut Tuhan ada Aku tahu Engkau disana Tuhan, tapi seperti tak berani menyebutnya Karena dosa-dosa, salah demi salah Orang tempat bercerita seperti sebuah bunga-bunga yang hilang itu Hanya termenung sendiri ditengah sabana yang kering dan kuning Sengatan terik sore yang menuju malah Mungkin hanya malam dan sunyinya bisa kubuat cerita Cerita-cerita tentang orang terbuang sepertika Diberbagai lingkaran yang selalu tak dianggap Dibuang, diasingkan Menanti malam dulu ada dirimu ditengah sabana ini Sekarang sudah tak ada Hanya berganti ruang kosong yang tambah sunyi tempat kau duduk kala itu Cepatlah malam matahari, aku ingin segera bercerita kepada malam Mangesti, 11 Januari 2022