Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

Menagih Idealisme

Kau pernah berkata dulu Altruis sebagai nafas dan hati nuranimu Bahkan masalah percintaanmu dengan manusia Realitas menagih semua idealisme itu Tentang tak menikah, membantu yang membutuhkan tentu dalam lingkaran diam dan sunyi Tak semua orang tau, hanya kau dan Tuhanmu saja yang tahu Sekarang, kau goyah Tapi berbagai perenungan membuahkan sebuah identitas baru Identitas idealisme yang katanya mewah saat masih muda Lantas jika sudah tua apakah kemewahan terakhir itu akan hilang? Seperti yang dibicarakan Tan Malaka Tapi kurasa idealisme juga harus berkembang? Lantas kau akan jatuh cinta lagi? Seperti dua tahun yang lalu? Suara-suara tagihan dan jawaban saling mengadu kebenaranya Jadi lihat saja esok hari Semoga membangun esok hari senantiasa terbantu Dengan apapun idealismenya Surakarta, 30 Oktober 2022

Tapi Ijinkan Aku Jatuh Cinta Lagi

Hanya lima jam Sesempit itu aku mengenalmu beberapa hari ini Dan kali ini seperti patah saja harapanku Aku membenci sebuah harapan sebenarnya Tapi agaknya sombong juga manusia biasa ini yang tak punya harapan Apakah aku ada salah ketika 5 jam bertemu kemarin Atau memang aku bukan kriteriamu saja yang sering kau ceritakan Aku tak tahu soal itu Tapi ijinkan aku jatuh cinta lagi Waktu yang semakin bergulir, kaupun semakin jauh kurasa Tak tahu apakah aku masih bisa mendekatimu lagi atau tidak Tulisanku tak pernah segamblang dan sejujur ini Seperti tulisan harian yang tanpa pengandaian, sangat jarang hahaha Yasudahlah, tak apa Dan tak apa juga jika kau tak mencintaiku Aku hanya rindu diriku ketika jatuh cinta, berdoa kepada tuhan hanya untuk kebaikanmu Tak membalaskan pamrih cinta kembali, hanya jujur saja aku suka padamu Cukup ijinkan saja, ijinkan aku mencintaimu Dua tahun kurang lebih rasa ini tak pernah muncul Pertemuan memang sungguh misterius, tiba-tiba aku mengenalmu dalam jaring sos...

Air Mata

Pernahkan engkau begitu mencintai beberapa orang? Ibu, ayah, kanjeng Nabi, dan Tuhan? Sampai kau pada titik tubuhmu legam penuh dosa Tak tahu lagi harus bersujud dalam ampunan yang bagaimana? Bisa saja kau tahu persis mereka menangisi mu karena dosamu Dan emosimu yang putus asa tiba-tiba menjadi amarah sedih Jika saja kanjeng nabi meneteskan satu tetes air matanya yang disana ada kesalahammu Kau mau bagaimana? Dunia mu runtuh saat itu, jagad yang terbentang hancur Kau menangis sejadi-jadinya, bayangkan saja Dengan isak tangis kau merengek "kanjeng nabi meneteskan air matanya karena hamba yang bodoh ini" Bahkan menyebutnya pun serasa tak pantas untuk mulut yang penuh dosa ini Apalagi menuliskanya dalam tulisan ini Seperti mencari pembenaran nafsu hamba yang bodoh ini Lalu memamerkanya ke banyak orang untuk simpatisam pengampunan Pengampunan atas pengakuan orang lain bukan kanjeng nabi itu sendiri Apalagi tuhan mu Kau mau menjelaskan apalagi kepada tuhanmu yang menciptakanmu Ma...

Tumbuh Kembali

Kurasa aku menemukan bunga yang tumbuh kembali Mekar disabana yang kering tandus keemasan Dirimu kembali disana lagi, sendiri sunyi disenjakala kehidupan Bunga yang mekar disore hari, dua tahun sudah putus asa dirimu menunggu Dan kurasa aku harus merawatnya juga, merawat ingatan kebaikan Dua makhluk yang harus saling merawat Ijinkan diri ini merawatnya Tuhan Surakarta, 28 Oktober 2022