Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Muhammad Ainun Nadjib

Untukmu Mbah Nun Terimakasih atas segala cahaya yang kau beri Sehingga selalu ada ruang merdeka dalam diri ini Malam itu selalu kurindu atas sumilir cinta-cinta yang saling melengkapi Selalu sejuk jika memejamkan mata Selalu damai jika menghela nafas Dan selalu rindu kepada sang pencipta rindu Hangatnya peluk diluar raga juga melengkapi rasa nyaman itu Sangat bersyukur dapat bertatap dalam lingkaran cinta Untukmu Mbah Nun Terimakasih atas segala arahan dari telunjuk jarimu Jika tujuanya hulu, semua berhulu pada satu hulu yang sama Dengan jalan yang berbeda Dengan kapasitas yang berbeda Dan dengan cinta yang berbeda tentunya Bahkan arah kesadaran darimu mengalahkan telunjuk yang terangkat Untuk tujuan yang sangat tinggi tersebut, semesta pun membantu Melalui angin sejuk dan tatanan semesta yang menari-nari dengan indah Untukmu Mbah Nun Terimakasih atas segala air yang kau bagi ditengah rasa kering ini Kering dalam diri yang mematikan keseimbangan Kurasa akan sangat timpang jika tak dapa...

Rasa yang tak Dirasa

Sudah biasa semesta menari dengan presisinya Sudah biasa juga matahari memberikan tatanan yang sempurna Semua saling melengkapi dari sekat-sekat rindu itu Hanya kau saja yang tak sadar akan besarnya mereka mengisi sekat-sekat itu Tak tahu sampai kapan Tak tahu sampai dimana Semua serba tak tahu untuk menuju keseimbangan tersebut Entah melepaskan atau dilepaskan pun tak tahu jika berhulu di keseimbangan Entah juga ada hal lain yang melepaskanya Sungguh ketidaktahuan dari rasa takut untuk seimbang Ingin sekali memaksakan untuk memilih jalan Kembali rasa takut atas keseimbangan semesta yang berlaku Takut merusak tatanan keseimbanganya Juga takut merusak kemerdekaan yang telah teratur Ingin juga sedikit memerangi hal yang dirasa mau melepaskan Dan kembali lagi seperti pengulangan yang abadi Atas nama keseimbangan kutakut menarik pedangku Pedang yang sudah lama terasah tajam dan cukup panjang untuk menebas sebuah keseimbangan Mungkin tak apa jika tarian pedang dariku benar presisi atas kese...

Simpul-Simpul yang tak Disimpulkan

Ikatan cinta yang pernah kita rawat kawan Kadang terkoyak dalam panjangnya waktu Kadang runyam dalam bingungnya dimensi Kadang terlepas dalam luasnya ruang Yang kutahu kita berusaha menguatkanya Hanya dalih sefrekuensi yang mengganggu simpul tersebut Semoga selalu terjaga simpul-simpul itu kawan Entah dalam ruang, waktu dan kondisi apapun Semoga selalu terjaga Dalam dinginya malam semoga simpul-simpul terikat oleh sunyi doa Dalam teriknya matahari semoga simpul-simpul terikat oleh cinta Banyaknya simpul semoga menjadi keseimbangan baru Untuk membangun sesuatu yang baru Sekecil apapun kutahu akan jadi manfaat bagi huma manusia masing-masing Tepatnya dalam dasar huma manusia yang berisi kedamaian Sambung menyambung dalam jaring yang diatur olehNya Jepara, 24 Mei 2020

Untukmu Ibu(3)

Cepat sembuh ibuku Dari penyakit-penyakit yang datang kepadamu Tentu saja hal itu sangat kecil bagimu ibu Kutahu kau selalu menempatkan hal itu dalam keseimbangan semesta Cepat sembuh ibuku Dari hal-hal yang tak membuatmu bahagia Maaf anakmu selalu angkuh saat bersamamu atas nama kedewasaan Maaf juga karena tak secara langsung kuberitahukan kepadamu puisi ini Cepat sembuh ibuku Dalam ruang sunyi ini, kutitipkan doa yang kuselipkan kepada puisi ini Semoga tersampaikan kepadamu melalui hal-hal yang tak terduka Melalui cinta-cinta yang datang dari semesta Kutahu diusia senjamu ibu Kau masih tegar menghadapi badai-badai yang kadang ada Badai kerinduan juga seperti ku Tak tahu apakah bisa berdaulat atau tidak Kuhanya menangis dalam ruang ini Ruang yang sepi sunyi tanpa pintu masuk manusia Menahan malu karena belum bisa membahagiakanmu Ibu Jepara, 24 Mei 2020

Berdaulat Diatas Rindu(6)

Yang paling besar dari kesalahanku adalah bersalah kepadaMu Tuhanku Salah-salah yang semakin menumpuk menimbun pada tanah milikMu Kemudian salah-salah kepada seluruh padatan buatanMu Dari yang menyatu sampai padatan-padatan terdekatku Cinta-cinta yang timbul pagi ini Selalu menjadi tamparan telak dilubuk hati paling dasar Dimana rindu-rindu yang berdaulat bersinggungan denganku Istimewanya mereka sungguh tak sadar atas kedaulatan itu Lubuk hati hanya terbakar terselimut rekaman memori tadi pagi Kuharap ketidakseimbangan ini menjadi senjakala Senjakala atas peran-peran jahat yang jarang terkalahkan Kuharap juga ini senjakala untuk mbah egois, dan merubahnya jadi sebuah keseimbangan Keseimbangan yang berdaualat Dari diriku dan Tuhanku Tandusnya medan perang yang berlalu Semoga menjadi senjakalanya juga Kemudian keseimbangan berdaulat diatas maaf dan ampunan Yang selalu diingat Dalam langkah disepanjang jalan Jepara, 24 Mei 2020

Berdaulat Diatas Rindu(5)

Tuhan Aku percaya bahwa jatuhnya titik embun sudah Engkau rencanakan Aku juga percaya bahwa tarian konstelasi alam semeta karenaMu Sampai pada tatanan rasa cinta yang tak terberitakan Tapi kenapa diriku selalu lalai dari hal-hal itu Hal-hal kepercayaan yang harusnya kutanam dalam kesadaran Tuhan Maaf karena sering melupakan ruang-ruang yang terlewat Maaf karena sering melewatkan waktu-waktu yang menyintas Maaf juga karena tak melihat hulu dari dialektika peristiwa Hulu yang menuju kepada Engkau, yang sering kutersesat karenanya Tuhan Aku juga berterimakasih kepadaMu Terhadap air yang Kauberikan disepanjang jalan menuju hulu Air sungai yang menjadikanya penunjuk jalan kehulu Sering kuangkuhkan karena kesadaran egoisku Sering juga kuberjalan menjauhi sungai karena landai Padahal jelas tanjakan pinggir sungai membawaku kehulu Maaf karena itu Jepara, 22 Mei 2020

Berdaulat Diatas Rindu(4)

Terimakasih Tuhan Atas cinta-cinta yang datang kepadaku dari kehendakMu Betapa bodohnya aku yang jarang sekali menyadari cinta-cinta itu Kadang sengaja melupakanya Terimakasih Tuhan Atas rindu-rindu yang terselesaikan dari kehendakmu Entah itu memang terselesaikan atau belum Dan kembali lagi, banyak tak sadarnya dan kadang sengaja tak sadar Terimakasih Tuhan Atas simpul-simpul yang kau eratkan karena kehendakMu Jika aku sendiri, tak mungkin bisa simpul-simpul itu akab erat Sungguu bodohnya aku yang tak sadar akan hal itu Dan semoga kerinduan ini tetap terjaga Dimana rindu berdaulat atas pikiran Dimana rindu berdaulat atas hati Dimana rindu berdaulat atas perilaku Dan tak tahu juga apakah rindu ini telah selesai atau belum Dan harusnya bersyukur atas rindu ini Kepadamu Tuhan Jepara, 22 Mei 2020

Untukmu Ibu(2)

Disenjakala ramadhan ini begitu damai Perjumpaan dengan kawan-kawan lama Saling menyambung dan mengikat simpul-simpul persaudaraan Pantai pagi tadi hanyalah ruang Sejuk pagi tadi hanyalah waktu Dan untukmu ibu Kali ini sangat senang melihatmu tertawa Tidak lagi pertemuan yang diselesaikan rindu Kadang momen-momen kecil mempunyai kerinduan juga Hanya satu yang kusayangkan terhadap diriku Selalu angkuh pada kerinduan yang terselesaikan Tak mampu menyelesaikanya dengan sempurna Kadang acuh tanda tak peduliku Dibalik angkuhnya atas perilaku tersebut Kukatakan lagi lewat puisi ini ibu Aku sangat mensyukuri atas apa yang dilakukan rindu Membuat diriku tersenyum didalam hati Kembali badan sungguh angkuh Andai saja ada gugatan hati kepada badan Mungkin ada ribuan aksi yang berdemonstrasi menuntutnya Sungguh tak berdaulat dan tidak jujur Kadang hati harus menundukan perilaku Agar berdaulat diatas rindu Tentunya hanya kepadamu Ibu Jepara, 22 Mei 2020

Untukmu Ibu

Maafkan anakmu ini ibu Hari-harinya dipenuhi masalah yang jarang bisa diselesaikan oleh anakmu ini Padahal ibu sudah mencontohkanya dari kecil Diusiaku saat ini ibu, maaf atas keangkuhan atas kedewasaanku untuk rasa cinta Kurasa bilang dewasa saja tak pantas ibu Hanya angka-angka yang menandakan waktu Maaf atas keangkuhan itu Maaf atas segala harapan yang kau inginkan, aku hanya seperti ini Dan maaf ibu, tak bisa membalas setetes cinta yang kau beri selautan Maaf ibu, rasa cinta dalam angkuh ini tak termanifestasikan dalam perbuatan Semoga terselip doa dari sajak ini Doa kesehatan dan kebahagiaan untukmu Dari anak mu ini, yang selalu angkuh Jepara, 16 Mei 2020

Berdaulat Diatas Rindu(3)

Manifestasi dari rindu-rindu yang dibangun adalah sebuah keindahan Biasanya terwujud oleh pekerjaan, keseriusaan sampai kepada cinta Alam selalu bisa berdaulat jika masalah rindu Manifestasinya sangat banyak dan beragam dan sudah sampai kepada cinta Seperti cinta dari matahari kepada pepohonan Lalu cinta dari air kepada padi Sampai cinta udara kepada semua makhluk yan membutuhkan Dan masih banyak rindu-rindu alam lainya yang telah menjadi cinta Pertanyaan besarnya adalah Apakah kita bisa seperti matahari, air dan udara yang telah berdaulat atas rindu-rindunya Pergolakan sepi tanpa tepi untuk memikirkan hal tersebut Belum lagi kekasihNya Yang belum juga dirindu olehku secara besar Kembali lagi ke dimensi sepi tanpa tepi Sunyi dalam hati atas kesalahan rindu yang terbelokan oleh dunia Dunia ciptaan dariNya yang seharusnya kau seimbangkan Bukan malah timpang atas semua yang ada disekitarnya Jepara, 16 Mei 2020

Berdaulat Diatas Rindu(2)

Jika menimbang dari lahir sampai saat ini Sudah berapa kerinduan yang termanifestasikan oleh perbuatan baik? Selalu takut dan resah atas jawabanya Yang kutahu jawabanya bukan hanya sekedar angka-angka Selalu menjadi hak paten bagiNya Yang kutakutkan adalah Aku tak tahu atas diriku Aku tak tahu atas peranku Aku tak tahu atas penokohanku Aku tak tahu atas fungsi sesungguhnya dariku Terasa sangat berat melawan lalai Lalai selalu mengalahkan rindu Jarang sekali aku berdaulat atas rindu dan mengalahkan lalai secara konsisten Jika itu keseimbangan, aku selalu tak seimbang Selalu kalah melawan lalai Rindu-rindu yang telah terecer dimedan pertarungan selalu ku susun kembali Kadang juga mengalami pemaknaan yang sesungguhnya atas rindu tersebut Yang kutahu aku selalu kalah menurutku Sering kali pada waktu yang sama Banyak rindu-rindu yang seimbang dengan lalai Dan bermanifestasi menjadi keindahan Lalai yang terindahkan oleh rindu yang berdaulat Jepara, 16 Mei 2020

Berdaulat Diatas Rindu

Waktu demi waktu yang terlewat Hanya terlewat begitu saja Tanpa disadari Sering dilupakan Sedikit yang termakna Kadang rindu padaMu selalu lupa Yang menampar diri adalah lupa membawakannya untukMu Tak termanifestasikan dalam apapun Rindu hanya berucap sebatas sajak Rindu tak mampu dalam bentuk perbuatan Selalu beku pada gerak, beku dalam pemikiran Sungguh waktu menertawakan Waktu juga bertanya, kapan berdaulat diatas rindu? Jawabku dengan ketakutan tak tahu Melihat yang lain bisa berdaulat diatas rindunya sungguh malu Bahkan rindu yang disebut rindu, tak terasa jika mereka merindu Kutahu aku juga ingin berdaulat pada rinperbuatan Jepara, 16 Mei 2020 Menari-nari dalam doa dan perbuatan

Penokohan Kambing Hitam Dosen dari Sutradara Sistem Pendidikan

Jika melihat lebih kedalam lagi dari lingkaran pendidikan perguruan tinggi, dengan sudut pandang yang agak berbeda, dosen pun menjadi salah satu korban dari sistem yang selama ini dipakai. Banyak bapak ibu dosen yang sering diprotes oleh mahasiswanya karena dirasa kurang tanggap dalam perkuliahaan, apalagi pada saat pandemi yang melanda seluruh universitas di negeri sendiri. Pada lingkaran teman-teman saya, masih ada saja terdengar kisah-kisah pengusiran yang dilakukan oleh ibu dosen kepada mahasiswa, anehnya pengusiran tersebut dilakukan lantaran penyanggahan teori yang agak kasar dari mahasiswa. Dari hal tersebut memang seorang mahasiswa tadi agak ngotot dan tidak mau mengalah, dalam artian terus menyanggah apa yang dikatakan oleh dosen tersebut, agak lucu sebenarnya sikap yang diambil oleh dosen tersebut, sampai mengusir mahasiswanya karena perbedaan pendapat, lain halnya kalau memang terlambat pada waktu yang telah disepakati, dosen pantas untuk mengusirnya atau melarangnya mas...