Air Mata

Pernahkan engkau begitu mencintai beberapa orang?
Ibu, ayah, kanjeng Nabi, dan Tuhan?
Sampai kau pada titik tubuhmu legam penuh dosa
Tak tahu lagi harus bersujud dalam ampunan yang bagaimana?

Bisa saja kau tahu persis mereka menangisi mu karena dosamu
Dan emosimu yang putus asa tiba-tiba menjadi amarah sedih
Jika saja kanjeng nabi meneteskan satu tetes air matanya yang disana ada kesalahammu
Kau mau bagaimana?

Dunia mu runtuh saat itu, jagad yang terbentang hancur
Kau menangis sejadi-jadinya, bayangkan saja
Dengan isak tangis kau merengek "kanjeng nabi meneteskan air matanya karena hamba yang bodoh ini"
Bahkan menyebutnya pun serasa tak pantas untuk mulut yang penuh dosa ini

Apalagi menuliskanya dalam tulisan ini
Seperti mencari pembenaran nafsu hamba yang bodoh ini
Lalu memamerkanya ke banyak orang untuk simpatisam pengampunan
Pengampunan atas pengakuan orang lain bukan kanjeng nabi itu sendiri
Apalagi tuhan mu
Kau mau menjelaskan apalagi kepada tuhanmu yang menciptakanmu

Masihkan kau pantas untuk menghirup udara dariNya
Masihkan jagad kesadaranmu utuh?
Maaf dan ampun, mungkin itu yang selalu ada dibenak
Dalam takut dan pengulangan nafau yang serupa
Nafsu dunia yang menjatuhkanmu ke neraka ini

Maaf kanjeng nabi
Maaf tuhan
Maaf ibu
Maaf bapak

Surakarta, 30 Oktober 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menarilah Fantasi

terjebak

Mati diusia 27 Tahun