Jangan Jauh Lagi

Semenjak dirimu pergi entah beberapa bulan yang lalu
Langkahku begitu kosong, begitu hampa
Tak ada lagi jiwa dalam langkah yang diambil
Selalu gagal tanpamu, selalu hampa tanpamu
Seperti kehilangan gandeng tangan saat raga mulai letih berjalan pelan

Kali ini rindu memuncaki gunung dalam diriku, saat menulis tulisan ini untukmu
Ditemani kehampaan dan kesunyian diri saat sadar jauh darimu kutakbisa apa-apa
Hanya manusia yang kosong tanpa sesosok yang dicintai dan dirinduinya
Tetap sadarkan aku seperti ini untuk selalu merindumu

Aku yang selalu menunggumu dalam tetes embun dipagi hari, ditemani suara kicau burung sebelum cahaya
Aku hampir tak kuat melanjutkan tulisan karena sadar betapa bodohnya aku akhir-akhir ini
Bodoh karena merasa bisa tetap tegar tanpamu, merasa abai akan kelembutan rasa maafmu
Maafkan aku ini, aku sungguh ingin memelukmu dalam puncak mahameru saat ini

Memang bodoh jika merasa perjalanan ini baik-baik saja tanpamu
Nyatanya tidak seperti itu, kau selalu ada dalam langkahku yang tersandung
Menjabat tanganku dan menariku kembali untuk berdiri dan berjalan
Membuatkanku kopi dan mie saat sebelum tidur dalam sabana yang luas
Memeluku saat aku menggigil diujung malam yanh dingin ditengah sabana

Betapa naifnya aku ini, melupakanmu seperti bumi yang kehilangan mataharinya
Tak ada lagi cahaya, tak ada lagi kehidupan, dan tak ada lagi aku
Bagaimana aku tak berterimakasih padamu, tapi saat ini, aku hanya menangis karena merasa semua baik-baik saja tanpamu

Gandeng aku lagi, temani aku dalam sisa perjalanan ini
Tunjukan lagi gelak tawamu yang manis dalam lautan edellweis yang bermekaran
Disaksikan samudera awan yang menemani indah perjalanan kita
Kerap kau membantuku dalam jalan yak tak landai, menarik dengan tanganmu, waktu itu wajahmu begitu manis

Terimakasih juga atas maafmu yang sungguh lembut dan membuatku seperti titik kecil dalam alam semesta
Juga terimakasih atas waktu yang pernah kau sempatkan untuk menggodaku agar marah dalam simpul cinta
Semua begitu mesra kala itu, idealisme kita sejalur dan berhulu pada samudera yang banyak sekali rindu-rindu bersemayam disana

Kali ini, saat menukis sajak ini, aku benar-benar tenggelam dalam kalimatku sendiri
Tenggelam semakin dalam kedasar kerinduan yang selama ini sulit kudapatkan
Semakin dalam tenggelam, semakin gelap, semakin dingin
Yang tersisa hanya hangat kehadiranmu dan diriku saja

Dalam palung lautan kalimatku ini, kau seakan menggandengku untuk semakin tenggelam
Kadang menoleh kepadaku dengan senyum manis dan maaf lembutmu
Aku selalu menangis terharu saat kau pegang erat tanganku
Bahkan dalam sunyi yang paling sendiri, kau hadir di sampingku, seperti semua ruang adalah dirimu

Kali ini juga seperi tak bisa berhenti menulis, aku benar-benar merindumu dalam sajak ini
Memang benar, ruang seperti menjelma dalam dirimu
Bahkan saat diriku terbang keruang angkasa, kau hadir juga disampingku
Semakin tinggi dan semakin tinggi, kini kau memeluku dalam dingin udara yang semakin dingin
Hukum gravitasi sepertinya tak berlaku dalam imajinasi ini

Dalam langit yang setinggi ini, tak ada rasa sesak sama sekali
Yang ada hanya rasa dingin dan hangat tanganmu yang menggandengku
Semain tinggi raga ini tertarik keatas, semakin tinggi juga perasaan dan rinduku atas momen-momen yang telah kita ciptakan dibawah bumi sana
Aku sangat merinduinya
Ijinkan aku terus merindu seperti ini
Yang selalu mengingatmu
Dalam apapun

17.28 • Jepara, 14 Mei 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menarilah Fantasi

terjebak

Mati diusia 27 Tahun