Awalnya, jujur lagu Poli Fono Foto Fantasi selalu aku skip dalam mendengarkan album 3 FSTVLST, tapi disatu sore yang mendung sambil sepedaan waktu lagu ini diputar saat tiba dijalan pantai Teluk Awur yang sepi dan damai, aku menemukan liriknya yang sangat dalam. Lirik yang dipenuhi dengan gambaran “resolusi rendah”, “bayangan”, dan “khayalan” membawa kita masuk ke dalam ruang batin manusia yang tidak sepenuhnya jernih. Masa lalu dan masa depan hadir bukan sebagai sesuatu yang pasti, melainkan sebagai pantulan samar—seolah hanya serpihan dari realitas yang tidak sepenuhnya bisa digenggam. Dalam kondisi ini, manusia sering kali hidup di antara dua kutub waktu: terikat oleh bayangan masa lalu dan ditarik oleh fantasi masa depan, tanpa benar-benar berpijak pada kesadaran saat ini. Namun justru di dalam ketegangan itulah muncul satu pelajaran penting: bagaimana menempatkan masa lalu dan masa depan secara benar dalam kehidupan. Dalam Al-Qur’an, khususnya Al-Baqarah ayat 134, ditegaskan bahw...
Visi hilang Semua melelahkan Seperti terjebak Dalam ranting Disepanjang sungai Tak jernih berpikir Pikiran kacau Aku lelah Bahkan untuk ini Yang sekedar kutulis Juga terjebak
Besok tepat 27 tahun, sebuah kematian yang hidupnya kalah oleh kahanan, tapi kok rasanya ga enak sama Tuhan, betapa tidak bersyukurnya karena masih bisa bernafas. Mungkin tiap usia dalam fase hidup manusia punya kuburanya sendiri, terutama menginjak dewasa, diumur remaja mungkin sudah mengalami kematian itu sendiri, dan tidak sedikit juga kematian datang dari kecil. Mungkin kematianku ini tidak seberapa dibandingkan kematian teman-teman sebayaku, betapa lemahnya diriku ini, bahkan aku tidak bisa menguburkan dengan mandiri batin dan pikiranku ini. Sangat payah, lemah dan pecundang. Digudang yang kusebut kamar ini aku sedikit menuliskan apa saja yang ada dibatinku, menjelang tepat diusia 27 tahun, sangat biasa, semoga diberi rasa bersyukur yang banyak, tak ada perayaan, seperti layaknya tahun-tahun sebelumnya. Tapi terimakasih Tuhan, terimakasih Kanjeng Nabi, terimakasih bapak ibuk, terimakasih Cak Nun. Ada banyak fase dalam hidup ini yang ditopang karena faktor besar itu. Memang sangat ...
Komentar
Posting Komentar