Seni, Cinta dan Pertemuan

Laki-laki 50 tahunan itu memesan kopi dibelakangku
Tak terbesit dariku sebelumnya bahwa ia seorang seniman
Hujan memaksa kita untuk saling berdekatan dalam sebuah senyum
Dalam sebuah sapa dan tanya mengarahkan arus ke ISI Yogyakarta
Tepatnya diawal tahun  2000-an

Pelan-pelan terbawa arus ke singgasana seni dan ma'rifat
Terus mengalir menyusuri kisah Persada Studi Club
Arus semakin deras menuju penempaan di Kawah Candradimuka Malioboro
Akhirnya kita berdua sampai dihilir cinta dan seni
Banyak tokoh yang tersebut, Ebit  G. Ade, Cak Nun sampai sang tokoh utama Umbu Landu Paranggi

Apakah sebuah kebetulan ataukah memang gravitasi cinta yang menariknya
Tak kusangka ditempat kerja yang penuh sandiwara dipertemukan dengan seorang seniman saksi emasnya Malioboro kala itu
Banyak seniman lahir disana, banyak penyair tumbuh disana dan banyak orang-orang sunyi berjalan disana
Memang kukira cinta yang mempertemukan kita berdua

Sampai pada ujung cinta dan sebuah keharmonian yang tinggi, nama pun tak sempat berkenalan diawal kalimat
Sungguh lama sekali tak mengobrol dengan orang-orang seperti beliau
Seorang sahabat, pria yang sudah cukup senja dan saksi emas jalan Malioboro
Kembali kurindu dengan orang-orang yang sedikit memungut cahaya dari kisah itu di Solo
Ya benar, kurindu kau juga kawan, Mas Khaq, Bimo, Alan dan kawan-kawan lain pemungut cahaya emas malioboro.

Mayong, 27 Januari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menarilah Fantasi

terjebak

Mati diusia 27 Tahun