Muhammad Ainun Nadjib
Untukmu Mbah Nun
Terimakasih atas segala cahaya yang kau beri
Sehingga selalu ada ruang merdeka dalam diri ini
Malam itu selalu kurindu atas sumilir cinta-cinta yang saling melengkapi
Selalu sejuk jika memejamkan mata
Selalu damai jika menghela nafas
Dan selalu rindu kepada sang pencipta rindu
Hangatnya peluk diluar raga juga melengkapi rasa nyaman itu
Sangat bersyukur dapat bertatap dalam lingkaran cinta
Untukmu Mbah Nun
Terimakasih atas segala arahan dari telunjuk jarimu
Jika tujuanya hulu, semua berhulu pada satu hulu yang sama
Dengan jalan yang berbeda
Dengan kapasitas yang berbeda
Dan dengan cinta yang berbeda tentunya
Bahkan arah kesadaran darimu mengalahkan telunjuk yang terangkat
Untuk tujuan yang sangat tinggi tersebut, semesta pun membantu
Melalui angin sejuk dan tatanan semesta yang menari-nari dengan indah
Untukmu Mbah Nun
Terimakasih atas segala air yang kau bagi ditengah rasa kering ini
Kering dalam diri yang mematikan keseimbangan
Kurasa akan sangat timpang jika tak dapat air itu
Air yang senantiasa menjaga keseimbangan hati
Air yang senantiasa merawat akar-akar kebaikan
Dan air yang senantiasa tak habis atas rasa cinta dan kasih
Terimakasih atas tetes air yang masuk dalam benih-benih anak muda
Juga terimakasih atas sentuhan-sentuhan cinta mu kepada benih-benih ini
Maafkan aku Mbah Nun
Terkadang benih yang kau harapkan tak sesuai dengan kenyataan di ladang
Sering tak sadar dirinya benih
Sering tak tahu dirinya bagaimana
Yang paling tak dimaafkan yaitu, lupa siapa yang merawat
Lupa atas tetes air yang tertuang
Lupa atas siapa yang menanamnya
Sungguh pergolakan yang sia-sia
Tanah selalu tertawa akan hal itu
Maaf juga Mbah Nun
Atas penghianatan otentikasi diri
Atas kekalahan melawan ketimpangan
Tidak seperti tarian semesta yang indah
Tahu bagaimana dirinya dan detil-detil yang kecil
Tak tahu juga apakah otentikasi dibunuh oleh sekolah-sekolah yang gila
Gila akan tolok ukur yang disamakan
Gila akan identitas yang sama
Akupun tak tahu apakah itu sebuah gerak tarian seperti semesta atau gerak pasukan perang
Kuingat saat pertama berjumpa
Senantiasa kulihat tetes-tetes jatuh dalam dimensi itu
Tetes yang dalam irama waktu selalu menari
Menari dalam ruang
Menari dalam waktu
Dan menari dalam bungkus semesta
Tak tahu berapa bungkus yang membungkus
Dan tak tahu seberapa kecil tetes dalam bungkus-bungkus yang tak terhingga itu
Yang kutahu ada banyak sekali cinta dalam tetes itu
Dihari ulang tahunmu ini mbah nun
Mbah ku, mbah mu dan mbah kita semua
Tentunya selalu kuselipkan doa dalam puisi ini
Semoga senantiasa sehat
Senantiasa berbahagia dalam apapun
67 tahun banyak memberikan cinta-cinta kepada apapun
Kepada manusia, tumbuhan, alam dan apapun saja
Menyeimbangkan sekuat tenaga sudut-sudut yang timpang
Menyejukan cuaca-cuaca kesadaran yang terik
Menyirami benih sampai akar menuju keseimbangan yang lebih luas
Terimakasih atas semua itu
Maaf juga benih ini kurang baik
Terimakasih dan maaf untukmu
Muhammad Ainun Nadjib
Jepara, 27 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar