Penokohan Kambing Hitam Dosen dari Sutradara Sistem Pendidikan

Jika melihat lebih kedalam lagi dari lingkaran pendidikan perguruan tinggi, dengan sudut pandang yang agak berbeda, dosen pun menjadi salah satu korban dari sistem yang selama ini dipakai. Banyak bapak ibu dosen yang sering diprotes oleh mahasiswanya karena dirasa kurang tanggap dalam perkuliahaan, apalagi pada saat pandemi yang melanda seluruh universitas di negeri sendiri.
Pada lingkaran teman-teman saya, masih ada saja terdengar kisah-kisah pengusiran yang dilakukan oleh ibu dosen kepada mahasiswa, anehnya pengusiran tersebut dilakukan lantaran penyanggahan teori yang agak kasar dari mahasiswa. Dari hal tersebut memang seorang mahasiswa tadi agak ngotot dan tidak mau mengalah, dalam artian terus menyanggah apa yang dikatakan oleh dosen tersebut, agak lucu sebenarnya sikap yang diambil oleh dosen tersebut, sampai mengusir mahasiswanya karena perbedaan pendapat, lain halnya kalau memang terlambat pada waktu yang telah disepakati, dosen pantas untuk mengusirnya atau melarangnya masuk kelas. Jika kita menganalisis kisah yang saya dengar dari teman fakultas x itu, akan terdengar narasi-narasi jikalau bu dosen yang salah, mahasiswa yang benar dan yang heroik sampai pentokohan antagonisme dosen. Saya pun juga spontan akan mempunyai narasi-narasi tersebut, tapi cobalah memperluas jarak pandangnya, sebenarnya kalau meruntut dari kisah tersebut yang salah adalah sistem pendidikan dalam patokan kompetensi yang harus dicapai.
Judul dalam tulisan kali ini yaitu “Sistem Pendidikan Menjadikan Dosen Kambing Hitam”. Setelah mengalami berbagai perenungan-perenungan dan berbagai kejadian yang telah terjadi, menurut saya dosen dalam lingkaran pendidikan perguruan tinggi dipaksa berperan menjadi kambing hitam, dimana kita tahu perumpamaan kambing hitam adalah seseorang yang baik dianggap jahat oleh sang antagonis sejati. Bagaimana tidak kambing hitam, dosen yang mengajar di berbagai mata kuliah banyak mengalami berbagai timbal balik yang kurang menyenangkan dari mahasiswa, seperti contohnya sikap ngotot dari mahasiswa karena perbedaan pendapat, pembantahan secara langsung dan tidak langsung tentang tugas-tugas yang dirasa tidak efektif sampai menuai berbagai protes kasar karena nilai yang didapat mahasiswa. Dan kembali kalau mengamati dari berbagai kejadian tersebut akan berhulu pada sistem pendidikan dalam patokan kompetensi mahasiswa.
Kompetensi yang harus dicapai mahasiswa merupakan beban yang harus dicapai para bapak ibu dosen, ada batas-batas materi yang akan diajarkan oleh dosen dan tentunya yang membuat kurang efektif adalah minimal angka nilai yang harus dicapai mahasiswa. Maksud dari tujuan kompetensi tersebut baik, hanya saja kurang tepat dalam artian angka-angka minimal tersebut dirasa tidak cocok dengan otentikasi diri dari masing-masing mahasiswa. Sebagai contohnya terdapat mahasiswa yang mempunyai otentikasi rasa sosial dan kreatifitas yang tinggi yang harus berhadapan dengan kompetensi materi-materi yang konservatif dan tidak sesuai zaman, dan hal itu mematok minimal nilai yang harus dicapai mahaiswa tersebut, akibatnya dosen harus memberikan pembelajaranya ke mahasiswa tersebut, yang didalam materinya berbeda dengan otentikasi mahasiswa tersebut. Kembali lagi jika terjadi pertentangan-pertentangan yang disalahkan dari kaum mahasiswa adalah para bapak ibu dosen, dan akan menjadi kambing hitam karena para dosen hanya melakukan yang diperintahkan dari sistem untuk mencapai kompetensi, dan kompetensi tersebut pun memukul rata atas keberagaman mahasiswa.
Kejadian lain dari ketidaksingkronan kompetensi dengan mahasiswa adalah orang pintar dalam lingkaran kampus adalah mahasiswa yang mempunyai IPK tinggi, betapa sempitnya kesadaran tersebut. Seperti halnya kisah teman saya yang mempunyai otentikasi budaya jawa yang kental, seorang perempuan yang rajin menjalani puasa-puasa tradisi jawa harus berhadapan dengan kompetensi berbau kebudayaan barat. Dan sudah pasti mahasiswi tersebut bertabrakan dengan apa yang dibangun atas otentikasi diri, dalam sebuah presentasi yang membahas tentang sosiologi, mahasiswi tersebut harus mengalah atas apa yang dibatasi oleh dosen dalam sosiologi modern itu. Hanya saja mahasiswi itu menerima atas apa yang didapat dan hanya bercerita bagaimana antagonisme dosen itu terjadi kepada saya. Dan kembali lagi dosen jadi kambing hitam dalam kisah yang diceritakan tersebut. Dan yang menakutkan lagi adalah kesadaran bahwa mahasiswi tersebut bodoh karena tidak bisa mengikuti perkuliahan sosiologi tesebut, pada saat ini banyak narasi-narasi selain yang tidak ber-IPK tinggi maka dianggap bodoh.
Dan jika kita memperlebar jarak pandang kita, hal yang akan ditemukan lagi yaitu kesadaran tolak ukur pintar-bodoh atau sukses-gagal dalam angka-angka minimum yang ada dalam perkuliahan, yang pada zaman ini semua terbungkus dalam kata IPK. Kesadaran tersebut berakibat sangat besar dari berbagai orang, dari mahasiswa, dosen sampai keluarga, akan tetapi kesadaran hal itu wajar saja dalam artian memang kebanyakan orang berpikit IPK tinggi dapat mendapatkan pekerjaan dengan mudah lalu sukses. Kembali lagi jika diruntut, yang jahat kali ini tidak hanya kompetensi yang ada di perkuliahan, bahkan sampai ke dunia pekerjaan. Memang di zaman tulisan ini dibuat gelombang kesadaran tolak ukur tersebut masih sangat besar.
Korelasi dunia pekerjaan dan pendidikan jika dilanjutkan akan semakin melebar, maka kali ini akan dipersempit pada kambing hitam yang ditokohkan oleh sutradara benama sistem pendidikan. Mungkin masih banyak kisah-kisah yang tidak terdengar ataupun cerita-cerita yang tidak diceritakan betapa antagonisme dosen yang sebenarnya sangat baik, hanya saja pendidikan kita tidak tumbuh dari atas (sistem pendidikan) tapi dari bawah.

Jepara, 3 Mei 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menarilah Fantasi

terjebak

Mati diusia 27 Tahun