Akhirnya Disini Kembali

 

Akhirnya disini kembali, dikamar kos pada jam setengah dua dini hari, sepeti biasa habis pulang kerja dan sedikit obrolan di angkringan, besok libur kerja jadi sebelum menuliskan tulisan yang tak jelas ini aku menyempatkan menyuci seragam kerjaku. Tadinya aku ingin berangkat kesolo untuk bimbingan skripsi besok dengan bu fida, tapi tak tahu bisa atau tidak, semesta begitu rumit dipikiranku, kembali banyak pihak dan kepentingan berperang dikepalaku.

Tuhan, aku takut jika kuliahku tak selesai, terutama dalam benak kedua orang tuaku, juga dalam benak ibuku yang berada diatas sana, juga benak bapaku. Rasa ini sungguh membelenggu batinku sampai kepada aku takut untuk pulang, dari tulisan ini juga kuungkapkan kepada bapaku, jika aku jarang pulang karena keresahan ini pak, lubang yang dalam yang kubuat sendiri tak mampu aku memanjat keluar dari jebakan ini, aku takut. Maaf pak buk

Lalu seperti biasa, tangga dua puluh delapan adalah tanggal gajian. Dan disaat sebelum gajian pasti keuangan menipis juga, tapi tadi di angkringan aku yang menraktir teman kerjaku, seperti biasa, jiwa altruisme ku selalu keluar. Juga tadi pas membuang sampah sehabis kerja aku menyempatkan makan nasi goreng di transmart setia budi, rasanya cukup enak juga porsinya banyak, sangat tepat di tanggal tua seperti ini.

Ibu, kurasa tanggungan kuliah ini akan sangat berat, tapi aku masih berhutang padamu sampai pada saat ini, utang yang harus kubayar dengan semua keringat dan waktuku ditengah sibuknya pekerjaan. Aku ingin membuka pebuatan jasa peta seperti yang kuceritakan dulu dengan mas ihfan, temanku psikolog dari gambang syafaat.

Yang kubisa kulakukan hanya menuliskan tulisan keseharianku agar otaku tak lagi semakin tumpul. Aku juga takut akan hal itu, ketajamanya sudah tak lagi sama seperti dulu, aku tak tahu kenapa. Bu maaf ya bu, semoga disana engkau selalu seperti yang diharapkan orang-orang, aku takut aku jadi beban mu jika ada disana, aku juga takut akan diriku sendiri tak jadi apa-apa. Tulisan ini semakin amburadul, dan aku tak peduli, aku menulis sesuai dengan hati dan pikiranku saja.

Aku kadang rindu, dulu aku bisa mabuk menuliskan puisi-puisi yang menurutku otentik, tapi beberapa tahun ini sangatlah tidak produkitif, aku jadi kangen solo kembali, disana mungkin aku menuliskan banyak tulisan dari berbagai kisah yang menarik, juga dijepara dulu, aku cukup banyak menuliskan tulisann-tulisan yang otentik. Aku rindu diriku yang dulu juga rindu bagaimana aku mabuk dulu, tentu bukan mabuk dengan minuman beralkohol, tapi mabuk dengan magisnya tulisanku yang didalamnya terdapat kisah menarik.

Aku rindu buk, jujur aku takut jika tak rindu padamu, karena selepas kepergianmu aku juga semakin lepas kendali dari otentikasiku, aku rindu dimana momen masa kecil tidur denganmu, sebelum tidur kita sekeluarga menonton televisi bersama diruang tengah, ada kakak, mba sofi, bapak dan dirimu buk, kadang lekwi datang juga pak de mon, hal yang tidak bisa diulang dan hanya berputar dikepalaku. Dulu sangat indah kurasa, dapat makan malam bersama, dengan makanan yang seadanya, menonton tv bersama, kehangatan waktu tidur dengan kelambu yang menyelimuti tempat tidur.

Juga dulu waktu kecil, sore selalu bermain bola dipasar lelang, sebelum hp menyerang, kita sering bermain bola disana, suasana dalam batik bak penari yang berdansa dengan indah ditengah ribuan penonton, aku sangat rindu juga. Sekarang mungkin agak berat dibatin ini, aku takut bu, tak bisa membuatmu tertawa diatas sana, aku takut membuat dirimu sedih, membuat dirimu menangis, aku takut, sangat takut.

Semoga tulisan ini sampai kepadamu, sebuah pesan dari hatiku ini bu, sebuah pesan dari anakmu, semoga selalu tersambung denganmu, karena pijakanku sudah goyah, semua identias dan idealitas berubah sangat dinamis disini, dan kurasa mengerucut kearah yang tidak benar, aku mencoba meluruskanya kembali sebisa-bisaku, mungkin tidaklah sempurna, tapi tetap akan kucoba bu, akan kucoba sekuat tenaga sebisa-bisaku.

Juga aku sangat berterimaksih kepadamu bu, atas apa yang kau upayakan kepadaku dimasa hidupmu dulu, sebuah modal yang bagiku lebih dari cukup untuk mengarungi hidup ini, aku ingin merindu seperti ini terus dalam batin yang mabuk lalu menuliskanya seperti saat ini. Kondisi saat ini dimasa hidupku sekarang sangatlah jarang, begitu tumpul pikiran dan hatiku selaras dengan bertambahnya usiaku, jariku seperti mabuk juga, mengetik dengan lancarnya apa yang diucapkan dari batinku.

Aku sangat berterimakasih bu, tapi kadang didunia nyata, aku masih angkuh untuk menyampaikan rasa terimakasihku kepada bapak juga kepadamu bu. Tapi dalam jiwaku dan sepenuh hidupku, rasa terimakasihku mungkin amat sangat kurang dari apa yang telah bapak dan ibu beri dulu, aku hanya ingin mempertegas ditulisan ini bahwa seluruh hidupku saat ini adalah berkat dari doa mu. Semua hal yang baik adalah karena doa dan usahamu mendidik dan merawatku sampai saat ini.

Dan tuhan, yang maha pencipta, aku berterimakasih atas rasa mabuk ini, aku menuliskanya dengan lancer melalui jari-jariku. Aku sangat berterimakasih, oh iya tuhan, aku memohon kepadamu juga untuk kesembuhan guru dan mbah saya, mbah nun atau cak nun. Karenanya aku banyak mengambil keputusan juga dari mbah nun.

Tuhan, aku mau bercerita lewat tulisan ini, aku sangat saying  kepada ibuku dan bapaku tuhan, tapi karena sebuah kesalahan yang kubuat sendiri, aku jadi seperti jauh dengan keduanya, tolong sampaikan rindu dan doaku kepada bapak dan ibuku tuhan,  maaf atas segala permintaan ini, tapi aku tak tahu harus bagaimana lagi, juga, aku ingin menyelesaikan kuliahku ini agar bapak dan ibuku merasa bangga telah mengeluarkan sebagian tenaga dan uangnya untuk biaya kuliahku. Aku bingung tuhan, pilihan-pilihan bodohku membuatku seperti ini, kadang kalut, abu-abu, banyak dipersimpangan, takut dan lain-lain membayangi batinku ini. Aku minta bantuanmu tuhan

Kurasa rasa sombong akan menyelesaikanya sendiri sangatlah naïf, maaf aku tak meminta bantuanmu, maaf jika dulu waktu senang kadang tak ingat denganmu, aku juga  tak tahu harus bagaimana, kadang malu meminta bantuan darimu karena sungguh jauh denganmu akhir-akhir ini, apakah hamba yang berdosa sepertiku masih pantas untuk berdoa dan meminta bantuanmu tuhan?. Jujur aku takut akan hal itu juga, tapi kurasa bodoh juga jika terlalu naïf ingin menyelesaikanya sendirian, saat ini aku merasa seperti butiran debu dialam semestamu yang maha besar ini. Tuhan aku mohon ampun juga, telah banyak kesalahan yang aku buat, diumur yang seperti ini apakah masih pantas aku meminta pertolonganmu? Karena dulu betapa sombongnya diri ini hingga menjadi sebuah jalan yang seperti ini.

Sekarang sudah 2 pagi, aku rindu mabuk seperti ini, aku sangat suka jika bisa menulis sepanjang ini dan terus mengalir saja sesuai dengan isi batin dan pikiranku. Oh iya, sekarang tahun politik, jujur aku sangat apatis dengan pemilihan presiden ini, tapi aku tetap mengikuti perkembangan-perkembangan beritanya, tapi tak seberpihak ditahun 2019. Kukira aku sudah sedikit mengantuk, mungkin sekian dulu dari tulisan ini. Terimakasih ibu bapak tuhan, maaf juga dan mohon ampun

 

Banyumanik, 28 Februari 2024

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menarilah Fantasi

terjebak

Mati diusia 27 Tahun