Tuhan, Maafkan Hambamu
Seperti tadi malam, ijinkan saya mabuk kembali, mabuk dalam
tiap derai tulisan-tulisanku, seperti aku merindu solo, rindu kepada orang
beserta suasana didalamnya. Dan ketakutan tentang pikiran yang dahulu semoga
tak terjadi lagi,
Dan pagi ini di banyumanik seperti biasa agak dingin, hari
ini masuk malam juga. Aku selalu lelah menghadapi dosa-dosa yang kubuat
sendiri, jika membicarakan kebodohan diri memang tidak ada habisnya ya, apa
yang menjadi tantangan saat ini mungkin manifestasi dariku waktu dulu, dan
lucunya aku ribut-ribut tentang masalah itu, masalah yang kubuat-buat sendiri.
Tuhan, kadang dipikiran ini selalu berkecamuk tentang
apa-apa yang terjadi tiap harinya, selalu ada peperangan besar yang terjadi
dikepala ini, bahkan oase ditengah gersangnya tempat ini kadang juga
membunuhku. Apakah musuhku selalu waktu, apa-apa yang telah cukup lama akan
semakin retak dan retak. Kedua tanganku selalu menggaruk kepalaku karena
peperangan didalam otaku. Terdapat banyak pihak yang berseteru sekaligus dalam
medan perang pikiranku. Mungkin tiga bahkan lima kelompok yang saling bunuh
membunuh dalam medan perang ini. Aku sedih juga mungkin angkuh menjadikanya
semua baik-baik saja, angkuh terllihat tak apa-apa padahal semua bebrdarah,
angkuh menjadi lelaki dewasa. Absurditas jalan hidupku juga semakin tak tahu
arah, tak tahu mana yang dipijak, tak tahu berjalan karena apa juga, dan tak
tahu jalan yang dipijak berada dikoordinat mana. Semua terasa menyebalkan
ketika semakin dipikirkan, pil pahit yang sangat banyak kurasa yang terus
ditelan oleh manusia kurus ini. Aku lelah, sungguh lelah, kadang tiap orang
selalu bisa menguras energiku, kumpulan oase itu tak lagi sama seperti dahulu,
dalam pikiranku disana ada sebuah keotoriterian, yang sangat menyebalkan dan
suka mengatur sesuka hatinya, mungkin pada bulan besok-besoknya tak usah
berbuat banyak juga karena mungkin akan sama saja.
Tuhan, maafkan hambamu yang selalu merengek ini ya tuhan,
aku iri dengan teman seumuranku yang sudah menemukan keotentikanya dan berjalan
diatas itu semua, disini seperti bertemu ganjalan-ganjalan batu yang tak ada
habisnya, selalu saja berbenturan kadang satu sama lain dan bersamaan. Tuhan,
ijinkan aku menulis tentang hal ini, agar esok bisa kubaca kembali, bukan
tulisan yang bagus yang dibaca banyak orang, tapi tulisan-tullisan dari suara
hati dan pikiranku. Atau mungkin tuhan, aku diciptakan untuk hal-hal yang
sifatnya berkesendirian, kukira dari tiap pertemuanku semakin lama semakin
retak saja, seiring dengan berjalanya waktu. Apa jalanku adalah jalan
kesendirian, jalan dimana aku berjalan sendiri dan sesekali bertemu orang saja
sesuai dengan porsinya. Aku bingung harus berpijak di jalan yang mana, aku
bingung.
Kukira dari banyaknya peperangan diotaku, tubuhku semakin kurus
saja, mungkin system-sistem dari perutku yang berhubungan dengan makanan
merespon dari otaku, karena banyaknyna peperangan yang terjadi mungkin lambung
enggan memasukan makanan. Padahal aku ingin juga gemuk dan berisi, tapi waktu
kadang lewa begitu saja tanpa ada suap nasi yang lewat. Kukira hati yang
bahagia juga akan meningkatkan nafsu makan, apa selama ini grafiknya selalu
menurun tentang kebahagiaanku?
Banyumanik, 26 Februari 2024
Komentar
Posting Komentar