Aku Rindu Semuanya
Sekarang jam dua belas lewat limapuluh pagi, di banyumanik cukup dingin, kali ini habis bekerja shift malam. Seperti biasa, pikiran di jam-jam segini selalu mengembara dimasa lalu dan masa depan. Tak tahu harus melakukan apa didetik ini juga, pikiran yang hidup dimasa lalu dan masa depan selalu tak baik, terperangkap dimasa lalu menimbulkan kekecewaan yang sangat mendalam berakibat stagnan, lalu pikiran dimasa depan selalu risau dan takut harus seperti apa sepuluh tahun yang akan datang.
Aku takut ketajaman pikiranku terkikis banyak, mungkin sudah
terasa saat ini, aku benar-benar takut akan hal itu, idealnya pikiran diumur
dua puluh lima tahun harusnya sangatlah produktif. Berbicara soal takdir, aku
juga takut akan takdir saat ini dan yang akan datang, penyakit risau pada masa
depan kadang melumpuhkan pikiranku. Apalagi wadah oase bernama maiyah juga
mulai terasa hambar, tak tahu apakah karena kumpulan dosa-dosaku atau dinamika
maiyah gambang syafaat yang berbeda dari yang dulu-dulu. Kukira memang aku
penyebabnya, dosa-dosa yang terakumulasi membuat takdir begini kurasa,
amburadul dalam setiap langkah dan nafasku, seperti tulisan ini juga yang
kutulis dipenghujung gelap malam, ditengah teman kosku yang sedang tertidur
karena telah lelah bekerja.
Kemudian soal kuliah, apalagi ini, sebuah dosa besar yang
kuambil sendiri tak hanya berimbas kepadaku saja, tetapi kepada orang tuaku
juga, kepada bapaku yang dari dulu selalu membantuku hidup, juga ibuku yang
sudah berada diruang yang berbeda. Aku takut, tapi juga masih bingung, rantai
nafsu masih membelenggu mengikat kaki dan tanganku tenggela dalam lautan
kesalahan. Apalagi soal berterimakasih, kukira terimakasih yang sesungguhnya
adalah membuat kedua orang tuaku bahagia, dengan menyelesaian studi ini,
bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga, syukur-syukur bisa bermanfaat ke
banyak orang seperti kata mbah nun, mbah nun selalu menjadi sosok guru yang
mempertemukanku kepada teman-teman istimewa, khususnya dulu waktu disolo, teman
yang kuyakini mempunyai hati emas dan bersih, kukira aku sangat merindukan
mereka mala mini. Kembali lagi soal kedua orang tuaku, aku bingung, pusing,
kadang pilihan ini memang bodoh, aku tak
berani menyalahkan tuhan, kukira memang aku yang bodoh.
Mungkin salah satu hal yang bisa dilakukan detik ini adalah
menulis, sebuah arsip yang nantinya bisa dibaca kembali dimasa depan, aku cukup
bahagia akan hal itu, membaca tulisan-tulisanku kembali di tahun 2021 bahkan
lebih. Tapi seperti yang kuceritakan diawal tadi, hal yang kutakutkan adalah
pikiranku yang semakin tumpul dan malas, termasuk dalam hal menulis, saat ini
mungkin tak setajam dulu, tiap tulisanya tak seperti dulu yang berasal dari
hati, apakah posisi nyaman saat ini membuatku terlena akan hal-hal seperti ini.
Yang kupikirkan adalah, apa aku masih pantas berdoa dihadapan tuhanku lagi,
kukira dulu aku akan selesai dengan jebakan nafsu itu, tapi pada akhirnya aku
terperangkap lagi dilubang yang lebih dalam dan semakin dalam, seperti terjatuh
dalam lubang palung laut yang semakin dalam, tangan sampai kaki terikat rantai
dan sangat susah untuk melepaskan diri, berbagai jalan-jalan terjal semakin
hari semakin banyak karena kebdohanku juga, kukira tak hanya tantangan umur,
tapi faktor dibelakangnya yang mendukung keterjalan itu semakin menambah adalah
ketololanku.
Berbicara tentang gambang syafaat, aku sangat bersyukur juga
bisa bercengkrama dengan lingkaran itu, banyak teman-teman yang berhati emas
juga, mungkin dalam perspektif yang berbeda juga. Tapi jujur kali ini aku
sangat merindukan solo, sangat merindukan mas khaq, mas alan, juga mas yudha.
Gambang syafaat mungkin terlalu bersih untuku, mungkin dari hal itu solo selalu
menjadi urutan no 1 setelah semarang. Aku bingung mau menuliskan apalagi,
karena tiga hari ini aku sedikit tersadar akan ketumpulan pikiranku, jadi
mungkin kali ini akan sedikit kupaksakan diriku untuk menulis apapun, tanpa
kaidah-kaidah yang berlaku, mengalir seperti aliran sungai, biarkan jari-jari
ini seperti aliran sungai.
Berbicara tentang pemaknaan. Solo selalu menjadi no satu
dalam mengisi sebuah makna yang dalam di
hidupku, berawal dari mahasiswa pendidikan geografi, kemudian bersinggungan
dengan maiyah, bertemu dengan teman-teman maiyah yang sangat berkesan
dihidupku. Solo sangat bermakna bagiku, banyak tempat-tempat perenungan yang
magis menurutku, seperti di bundaran isi Surakarta, duduk disana termenung
berjam-jam ditemani rokokok sangat bermakna bagiku, aku sering termenung
disana. Kemudian fenomena ketermenunganku saar dibundaran isi adalah selalu
melihat orang tua yang bepakaian dinas duduk sendiri disana, yang kutahu bapak
itu ODGJ, tak tahu yang melatarbelakanginya, tapi aku yakin bapaknya adalah
pejalan sunyi, perawakanya kurus, entah hanya itu baju yang ia punya atau apa
tak tahu, yang menarik adalah bapaknya selalu sendiri, termenung dalam lamunan
bundaran isi, terkadang sesekali kudapati beliau merokok.
Lalu yang kurindukan dari solo adalah, angkringan dibelakang
kampus satu UMS, sebuah tempat yang membuatku jatuh cinta kepada ati ampela,
dulu aku tak suka bahkan tidak bisa memakan ati ayam, tapi setelah semester
pertama kuberanikan diri untuk memakan ati masakan dari ibunya aku langsung
jatuh cinta, rasanya yang unik pelan-pelan bisa diterima dilidahku. Jiwa
altruismeku selalu tergugah jika diangkringan tersebut, aku selalu ingin
membantu orang-orang yang membutuhkan, apalagi dari keluarga yang bergelut
dengan ekonomi juga. Ahhhh mala mini aku jadi sangat rindu solo
Aku rindu jalanan slamet riyadinya, membeli nasi padang
setelah shift malam bersama ronggur, bertemu mas komar dan rokokan bareng
dengan merk rokok yang sama, yaitu win mild putih, aku juga kangen suluk
surartan, kangen mas khaq, alan, yudha. Malam ini jiwaku benar-benar mabuk,
terimakasih sudah diberi kesempatak untuk merindu dan dituangkan dalam tulisan
yang acak-acakan ini. Lalu aku kangen juga dengan keluarganya pak dhe, dulu aku
dan okky bernah ikut nimbrung jualan kerang api didepanya, aku kangen juga sama
okky, ngopi tengah malam dibundaran isi sama yahya juga, sama ayu. Aku rindu
semua tentang solo, tentang awal-awal dulu kerja di yoshinoya tidur diemperan
bank pinggir jalan raya selamet riyadi lalu waktu subuh dibangunkan sekelompok
remaja dan diberi makan sahur hahhaha. Aku rindu juga kepada gunung-gunung yang
mengelilingi solo, gunung lawu, gunung merbabu, semua aku rindu. Sangat
berkesan pernah menjajakan kaki di solo.
Aku rindu semuanya
Banyumanik, 26 Februari 2024
Komentar
Posting Komentar